AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA

 “Aku baik-baik saja.” Mantra ini selalu kurapalkan setiap hari. Berharap mood, semangat dan juga perasaanku membaik. Sayangnya, tak ada yang berubah walau sudah lebih dari dua bulan semua itu terjadi.

Aku bingung memilih kegiatan atau apa yang harus kulakukan. Aku merasa tak berguna. Selanjutnya merasa semua yang kulakukan masih belum menghasilkan apa pun. Aku juga tak bisa percaya pada orang lain. Mudah berselisih paham dengan suami dan yang pasti berat badanku naik, karena hanya bisa makan, tidur dengan minim aktivitas.

Yah, layangan putus menghantam keluarga kami. Bukan suamiku, tetapi dilakukan oleh orang yang selama ini kupercaya sebagai orang tua dengan segala keteladan dan juga wibawanya (Bapak). Aku masih ingin bilang, itu bukan ukurasanku secara langsung. Namun, semua terasa hampa begitu saja.

Yah, gangguan mental. Kurasa inilah yang kurasakan saat ini. Saat aku membangun diri untuk mengikuti segudang kegiatan positif dan aktif di komunitas, peristiwa ini menghantam segalanya. Tidak hanya diriku, suami dan juga adikku terkena imbasnya.

Kami saling menguatkan dan selalu mengatakan kalau semua akan kembali seperti dulu. Namun, kebersamaan tak lagi utuh. Tawa bahagia terasa semu dan yang tersisa hanyalah pura-pura bahagia. Beberapakali kata maaf dan ungkapan memaafkan terucap di antara keluarga. Bahkan ungkapan itu sangat kuat mampir di telinga. Namun, kenapa luka yang menganga tak pernah sembuh seutuhnya.

It’s okay not to be okay!

Dari sekian cara yang kulakukan, pemeliharaan fisik menjadi celah untuk mendapat kesegaran. Renang, jalan-jalan ataukah berbelanja sengaja kulakukan dengan budget melebihi biasanya. Pun untuk bersih-besih kulakukan lebih daripada yang terpikirkan, tidak hanya mengepel 1x seminggu. Aku bisa mengepel setiap hari, membersihkan dapur, kulkas dan juga lemari. Tak lupa, aku juga mencuci bahkan menyetrika dalam waktu berdekatan.

Walau hanya sekejap, setidaknya mampu memberikan asupan oksigen dan membuat otakku kembali hidup. Semua ini sengaja kujadikan rutinitas. Sampai suatu hari, aku tidak tahu apa yang bisa kudoakan, diriku sendiri ataukah orang lain. Seandainya diriku apa yang harus kupanjatkan. Apalagi yang bisa kupinta! Semua terasa melelahkan, yang tersisa hanyalah keputusasaan. Bila aliran rasa tersumbat, segalanya menjadi sangat menyiksa.

Festival Warga Kampung Komunitas Ibu Profesional

Tergabung ke dalam grup festival warga kelompok 1, membuatku jengah. Bukan karena grupnya, semua berasal dari dalam hatiku sendiri. Tak ada semangat atau dorongan untuk membuka gup WA ataukah membuat tulisan. Terlebih ketika diminta berpartisipasi, hilang sudah ide dan juga kata yang sempat ingin diungkapkan di grup. Seringkali terselip rasa sesal karena tidak mampu memberikan versi terbaik diri. Namun, entah datang dari mana ada sesuatu yang mengatakan kalau lebih baik berhenti saja.

Aku gamang. Namun, sebelum semuanya terlambat aku memilih untuk tetap berjuang dengan sisa kewarasan. Selain itu, aku harus cukup puas dengan keputusanku yang sempat menarik diri. Just for me. Aku membutuhkan waktu untuk bisa mencerna semua yang terjadi. Untuk ruangku membangun diri, mengenali apa yang berharga untukku dan melanjutkan hidup. Pun bagaimana aku bisa memperbaiki hubungan dengan orang lain.

Sertifikat Festival Warga

Mengenal Kesehatan Mental

Berbeda dengan materi festival warga lainnya, aku perlu mengucapkan terimakasih pada kelompok tiga yang mengangkat mengenai kesehatan mental. Karena memang sebagai perwujudan dari apa yang kurasakan saat ini sehingga materi itu merasuk begitu saja.

Sesuai dengan UU Kesehatan RI No 36 tahun 2009, seseorang dikatakan sehat bila memenuhi keempat aspek dalam hidupnya, sehat mental, fisik, spiritual ataukah sosial.  Kondisi ini sesuai dengan perkataan dokter kandunganku dulu, penyakit itu sebagian besar dari pikiran. Jadi nikmatilah hidup dan banyak bersyukur. Apalagi dalam posisi hamil.

Sebagai perempuan, kehidupan kita sangat kompleks. Apalagi kalau sudah menyangkut diri sebagai individu, istri ataupun ibu. Dalam proses menjadi ibu, permasalahan semakin pelik dalam lingkup prenatal, natal, dan juga post natal (istilahnya masa khamilan). Setiap tahapannya membutuhkan sikap dan juga pemikiran yang kritis dan rasional.

Semisal saja, dalam masa prenatal, ada yang mual bahkan  ada yang kesulitan mencari momongan. Setiap hari kita disibukkan untuk menanggapi gunjingan dan celaan orang lain yang selayaknya bersikap sebagai hakim yang maha benar. Belum lengkap mengatasinya, kita harus berupaya untuk terus mencoba bagaimana caranya mendapat momongan, belum lagi proses dan biayanya.

Bagi yang sudah hamil, pemikiran dan juga apa yang dimakan menjadi satu dengan janin dalam perut. Sekali kita stres, sulit tidur ataukah merasa tersakiti, janin juga menanggungnya. Satu masa terlewati, proses persalinan menanti. Bagaimana kalau mengalami kesulitan saat proses melahirkan. Normalkah, sesar atau bagaimana. Apakah anak sehat, lengkap anggota tubuhnya dan masih banyak lagi.

Bisa dibilang setiap fase kehidupan pasti ada tantangan. Kita tak dapat lari, hanya ada kesempatan untuk menghadapi daripada melarikan diri. Nah, `bila ingin sehat seutuhnya kita perlu memerhatikan adanya:

  1. Rasa sejahtera dalam diri. Diwujudkan dalam bentuk kemampuan untuk menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan orang lain atau lingkungan. Bisa berupa menjalin komunikasi dan mampu membangun hubungan harmonis dengan yang lain. Selain itu, mampu menakhlukkan tantangan hidup.
  2. Pemenuhan basic human needs atau kebutuhan dasar manusia, misal kebutuhan fisiologis (seks,sandang, pangan), aktualisasi diri, cinta, harga diri,, keamanan dan keselamatan.
  3. Percaya dan mau menggali potensi diri sehingga mampu mengelola kelebihan dan kekurangan diri.
  4. Adanya upaya produktif dan berperan serta di masyarakat.

Berkata itu memang mudah, tetapi tak ada kata mustahil untuk berubah. Aku percaya akan ada waktu di mana hati bisa sepenuhnya bisa meninggalkan kenangan lama dan menerima pemahaman baru. Yang pasti harus ada usaha untuk berbenah. Jangan hanya bertumpu pada waktu yang tak akan pernah berhenti hanya untuk sekadar mengulurkan bantuan.

Apiida Sokoomah

Penyebab Gangguan Mental

Penyebab pasti belum diketahui, tetapi ada yang membagi menjadi dua bagian: bilogis dan psikologis.

  • Biologis lebih tepatnya didasarkan pada perubahan proses manusia, diantaranya gangguan sel otak, infeksi bakteri, kerusakan otak akibat benturan, kelahiran dengan vakum ataukah karena pada masa proses persalinan lainnya, misal bayi yang teracuni air ketuban sehingga tejadi asfiksia (sel otak kekurangan oksigen). Pun ada penyebab lain, semisal karena NAPZA, kekurangan nutrisi dan juga ada keturunan dari orang tua.
  • Sedangkan faktor psikologis lebih kepada proses pengasuhan yang terjadi. Seperti kekerasan atau pelecehan seksual, kehilangan orang tua, perceraian dan juga sikap rendah diri yang berlebihan.

Kalau sekarang, COVID-19 dengan segala keterbatasannya juga dapat menyebabkan gangguan mental. Betul apa betul?

The Patient Health Questionnaire ( PHQ-9 ).

Nih, bila kita penasaran apakah sedang mengalami gangguan mental atau tidak, bisa dicoba menjawab pertanyaan berikut.  Pertanyaan ini terkenal dengan sebutan The Patient Health Questionnaire ( PHQ-9 ).

  1. Menurunnya minat atau kesenangan melakukan sesuatu.
  2. Merasa tertekan atau putus asa.
  3. Kesulitasn tidur atau terlalu sering tidur.
  4. Merasa lelah dan kekurangan energi.
  5. Nafsu makan buruk atau makan berlebihan.
  6. Merasa buruk tentang diri sendiri.
  7. Kesulitan berkonsentrasi (membaca, menonton).
  8. Bergerak dan berbicara lambat atau gelisah dan tidak tenang.
  9. Berpikir untuk mati atau menyakiti diri sendiri.

JAWABLAH, APA YANG KITA RASAKAN SAAT INI!

0

1

2

3

TIDAK SAMA SEKALI

SESEKALI DALAM SEHARI

JARANG

SELALU

JUMLAHKAN, DAN LIHATLAH HASILNYA!

1-9

10-14

15-20

21-27

DEPRESI RINGAN

DEPRESI SEDANG

DEPRESI SEDANG-BERAT

DEPRESI BERAT

Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka yang mengalami gangguan mental?

  • Menjadi pendengar aktif
  • Tidak menghakimi
  • Penalaran, lebih kepada mengarahkan untuk mencari jalan keluar terbaik.

Langkah pengelolaan stres dan kondisi emosional

  1. Jeda.
  2. Self detachment (menjaga jarak dengan diri sendiri, jangan menjadi orang lain).
  3. Take  a break dengan mencari aktifitas positif yang mengalihkan tenaga dan juga pikiran.
  4. Cari solusi.
  5. Melatih komunikasi produktif.

Akhir tulisan, semoga menjadi awal ikhtiar

Setelah lebih mengenali diri, aku mengalami permasalahan diri. Semuanya perlu sebuah penyelesaian. Di saat inilah, tahapan dengan take a break merupakan jalan terbaik yang bisa kutempuh. Selain menikmati me time, aku juga semakin mendekatkan diri dengan anak.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada keluarga Ibu rofesional karena sempat tertinggal materi dan juga kegiatan. Terselip ungkapan terimakasih. Aku bangga dan bahagia bisa mengikuti kegiatan dan menjadi bagian dari kalian.

#ResumeFeswar 3

#festivalwarga

#orientasikampungkomunitas

#balaimainceria/gembira/bahagia (isi sesuai nama WAG)

#ibuprofesional2021

#komunitasibuprofesional

#kampungmain3

#semestakaryauntukindonesia

#salamberprestasi

#PrestAsyik

Related Posts

2 thoughts on “Aku Tidak Baik-Baik Saja

  1. I may need your help. I tried many ways but couldn’t solve it, but after reading your article, I think you have a way to help me. I’m looking forward for your reply. Thanks.

  2. You could definitely see your skills in the work you write. The sector hopes for more passionate writers like you who aren’t afraid to say how they believe. Always go after your heart. “There are only two industries that refer to their customers as users.” by Edward Tufte.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *