#30HariJadiManfaat

Belajar Ikhlas Melalui #30HariJadiManfaat di Bulan Ramadan

Sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga, rumah adalah markas. Tempat saya berbagai inspirasi sekaligus melepas lelah. Tak jarang pula, rumah menjadi tempat pelepasan amarah, kekecewaan dan juga rasa penat.

Berbeda dengan mereka yang asli orang jogja, saya sebagai orang Jawa Timur kadang tanpa sadar berbicara dengan keras dan cepat. Yah, kalau mulut emak-emak sudah berbicara, suara bisa terdengar hingga menembus dinding dan sampai ke tetangga. Namun, mau bagaimana lagi, perlu membangun kebiasaan baru untuk memupus kebiasaan sejak kecil yang tak layak untuk ditiru ini.

Sejak menikah dan tinggal di perantauan, tetangga menjadi orang terdekat. Berdampingan hidup dengan mereka membuat saya belajar banyak. Yah, tetangga menjadi saudara tak sedarah yang seringkali terlupa. Teman berbincang ketika sendiri. Pengawas sekaligus ancaman, jika kita tak berbuat baik padanya. Namun, kebaikan kita kadang tak dianggap, padahal mereka juga butuh.

Tetangga memang istimewa. Begitulah saya memaknainya. Demi menjaga itu semua, saya selalu berusaha menjalin silaturahmi. Salah satu caranya, kalau ada kegiatan yang jadi pekerja atau rewang, tetangga sekitar. Pun kalau memilah barang rongsokan, saya berikan ke mereka. Sikap untuk berbagi pun saya tanamkan ke anak, kalau bisa memberi kenapa tidak?

Nyatanya, tak selamanya hubungan akan terjalin kuat. Kadang bisa rapuh karena perkataan atau perbuatan yang tanpa sengaja saling menyakiti.

Di awal kepindahan kami, suami kena tegur karena masalah pintu garasi. Pintu tidak boleh terbuka ke depan, harus bisa dilipat ke dalam. Padahal bisa dibilang jarak pintu dan jalan masih lengang dan itu masih di tanah yang menjadi hak kami. Sayangnya, mereka menganggap itu sebuah gangguan. Jadilah kami harus merogoh kocek untuk merenovasinya.

Setelah interaksi dengan tetangga semakin intens, saya berupaya untuk tetap positive thinking. Baik atau buruk tindakan pasti akan berbalik kepada pelakunya.

Belajar untuk Ikhlas

Apakah saya termasuk orang baik? Itulah pertanyaan pembuka di bulan Ramadan ini. Tepatnya, seminggu sebelum Ramadan. Tempat di mana saya membuang sisa makanan (nasi, lauk, tulang, duri atau sayuran yang tidak habis) telah di pagar oleh tetangga. Tanah itu berupa tegalan (lahan kosong) yang didominasi oleh pohon pisang. Tepat berada di sisi timur rumah. Di belakang tegalan itu, terdapat rumah tetangga yang memberi pembatas. Padahal, sebelum membuang di sana, saya sudah meminta izin pada sang pemilik tanah yang juga masih saudara dengan yang membuat pagar.

Denah Rumah

Sabar … sabar … sabar!

Dulu, pertimbangan saya membuang di sana selain mubazir juga dapat memberi makan ayam atau kucing liar yang biasanya berkeliaran di sekitar rumah. Pun dari hewan peliharaan itu ada yang milik tetangga juga.

Kenapa sampahnya tidak dibuat kompos atau dibuang di tempat sampah? Pernah saya membungkus plastik dan membuang sisa makanan di tempat sampah depan rumah, sayangnya belum genap sehari, kucing liar sudah mengacaukannya.

Bau busuk menguar ke mana-mana. Pun kalau dibuat kompos, rumah kami sempit dan tidak memadai. Tidak ada lahan atau tanah kosong. Depan rumah sudah jalan, belakang dan sisi lainnya sudah bangunan dan gang.

Dalam hati tentu saja kesal, padahal gang yang mereka lalui adalah tanah yang sejatinya masih hak keluarga kami. Cor yang memperhalus jalan juga sumbangan dari keluarga kami. Pun kalau mereka kesusahan, kami selalu berusaha menolong. Setiap bulan Ramadan, kami juga membantu memberikan bantuan sembako. Yang rajin membersihkan tegalan itu kalau bukan saya ya adik. Bahkan, kalau mereka butuh uang ya dipinjami, dan …. Astaghfirullah. Satu persatu apa yang saya anggap kebaikan muncul begitu saja.

Ramadan Sebagai Bulan Instropeksi Diri

Rasulullah SAW bersabda, “Puasa (Ramadan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka.

(HR. Ahmad dan al-Baihaqi).

Ramadan tahun 2022, menjadi salah satu sarana pelepas rindu akan tradisi yang sebelumnya direnggut oleh pandemi. Tarawih di masjid, melakukan pengajian setelah asar, pun buka bersama dapat kembali dilakukan. Yang tak kalah menarik, pencarian takjil menjadi semakin semarak dan banyak pilihan.

Di sisi lain, Ramadan kali ini menjadi teguran dan sarana instrospeksi diri. Melalui tetangga dan bisik-bisik yang ada, saya belajar menahan diri dan memperbaiki diri. Khususnya dalam niat. Yah, di awal waktu saya sudah merasa bahagia dan bangga dengan berbuat baik ke tetangga. Sayangnya, niat itu ternodai oleh adanya sebuah insiden tak mengenakkan.

Padahal, dalam berbuat baik itu harus ada keikhlasan di setiap prosesnya. Diawali dari niatan sebelum, saat berbuat kebaikan atau setelahnya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Ikhlas merupakan wujud dari memurnikan ketaatan. Amalan ini perlu diperhatikan dan dilakukan secara konsisten. Bukankah tujuan kita untuk mendapatkan rida Allah? Dengan mencoba untuk melatih ketulusan semoga amalan-amalan kita tidak sia-sia. Sehingga dapat menyelamatkan kita dari  dunia maupun akhirat kelak.

Salah satu jalan untuk bisa menerapkan ikhlas adalah dengan tidak berharap kepada manusia ketika beramal. Cara yang nyatanya ampuh untuk dilakukan terapkan adalah konfirmasi pada diri sendiri!

Tanyakan pada diri sendiri mengenai hal yang dilakukan. Apakah kita melakukan ini untuk teman, tetangga, kerabat, lembaga, atau untuk Allah?

Kalau jawabannya masih berhubungan dengan manusia/ orang di sekitar, kita harus bersiap untuk kecewa. tak selamanya respons orang lain sesuai dengan keinginan.

Berbeda kalau hanya berharap pada Sang Pemilik Hati. Perasaan kita lebih mudah diselubungi syukur. Kita pun mendapatkan kekuatan ketika cacian atau hinaan dari orang lain menyerang. So, kita tidak merasa sedih dan baper lagi. Karena pada hakikatnya kita melakukan itu hanya untuk mencari keberkahan.

Saya Bisa Bermanfaat untuk Orang Lain

Belajar agama bukan hanya untuk menjadikan diri baik, tapi juga manfaat. Sayang jika hanya baik untuk diri tapi tidak bermanfaat bagi sekitarnya

– Jefri Al Buchori

Ramadan menjadi sarana untuk menjadikan diri kita menebar manfaat. Setelah, introspeksi dan memperbaiki niat, mewujudkan dalam tindakan ke sesama adalah perkara penting. Dengan #30HariJadiManfaat ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Baik secara personal, berkelompok atau melalui lembaga.

Nah, untuk kegiatan personal dan kelompok, sasaran terdekat yang dapat dijangkau tentu saja ke tetangga dan lingkungan. Lingkupnya memang kecil, tetapi mampu memberikan dampak positif nan menginspirasi. Di antaranya:

Dua kali seminggu selalu ada pengajian menjelang berbuka di masjid. Di sela waktu itu, biasanya saya ditemani sesama emak-emak melebarkan titik lokasi untuk sekadar berbagi takjil.

Sasarannya pun beragam. Bila pemuda ada kegiatan bersih-bersih, kami menyiapkan santapan pembatal puasa. Menu yang kami persiapkan pun sederhana, disesuaikan dengan budget. Teh hangat dengan gorengan, pernah juga es blewah dan roti.

Dalam hal ini, tradisi berbagi kebahagiaan dalam bentuk parsel sudah ada sejak kami pindah. Prioritas penerima adalah mereka yang berpenghasilan kecil, seperti petani, buruh ataukah ibu rumah tangga. Atau orang yang sering bersinggungan dengan kami, di antaranya: tetangga, tukang sampah ataukah tukang laundry langganan. Isian parsel cukup beragam, ada gula, teh, telur, beras, mi instan, dan kecap.

Jangkauan kegiatan ini lebih luas. Selain ibu-ibu muda ataukah mereka yang remaja di sekitar rumah, juga dari berbagai daerah. Kegiatan dilakukan secara online. Salah satunya dengan menggelar kegiatan melalui zoom. Pun untuk menarik minat peserta, kami bekerja sama dengan komunitas, salah satunya Ibu Profesional.

Dalam kegiatan ini, anak-anak pun dapat turut serta. Karena di antara kegiatannya memang dirancang untuk ramah anak. Salah satunya, tentu saja mengenai memasak dan menjaga kesehatan gigi.

Kebutuhan akan pangan dan jajan di masa Ramadan meningkat. Di antara tetangga ada yang memiliki produksi peyek kacang, keripik pisang, keripik pare dan berbagai kue kering. Pun dari mereka ada yang janda dengan dua anak dan anak yatim. Demi membantu perekonomian keluarga mereka, kami berupaya membantu publikasi untuk mendapatkan pembeli. Status whats app pun akhirnya dipenuhi produk mereka. Dari jalan inilah kami dapat membantu usaha dadakan ini sekaligus sebagai bekal untuk memenuhi kebutuhan hari raya yang kian meningkat.

Secara bergiliran membantu proses kegiatan pembelajaran yang ada. Namun, Karena kesibukan di bulan Ramadan meningkat, kami menggantinya dengan membiasakan diri untuk bersedekah 2000. Dari hal ini pula, orang tua tidak merasa keberatan dalam menyokong anak-anak mereka mengenal kalam Allah.

Kebiasaan ini diharapkan dapat melatih kedermawanan anak sekaligus membantu keberlangsungan hidup sang guru ngaji. Dari hal kecil, kita dapat mengubah mindset yang terlanjur mendarah daging, di mana guru ngaji dianggap bekerja karena amal. Sehingga mereka tidak mendapat bayaran tetap, hanya biaya sukarela setiap bulan.

#30HariJadiManfaat Bersama Dompet Dhuafa

Uang adalah sarana termudah untuk bisa meneruskan manfaat ke lingkup yang lebih luas. Kalau tenaga dan usaha kita tak memadai. Kalau kita ingin lebih melebarkan sayap kebaikan, kita dapat menggunakan bantuan dari pihak ketiga. Salah satu pilihan tepat yang dapat dipilih adalah dengan berdonasi melalui Dompet Dhuafa (DD).

Sejak tahun 1993, DD sudah berpengalaman dalam mengelola Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) serta dana sosial lainnya. Organisasi nirlaba ini memanfaatkan dana halal itu untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Salah satunya dengan membantu masyarakat yang kurang mampu.

Dari DD, kita dapat menyalurkan manfaat secara tepat dan akurat. Penyelanggaan dan penyaluran program terencana secara profesional. Jarak bukan lagi halangan untuk beraksi. Mau membantu saudara di nusantara ataupun di belahan dunia lain, semua terfasilitasi.

Sama seperti kemajuan teknologi yang kian memudahkan, donasi melalui DD pun semakin maju. Melalui layanan DD, kita pun dapat zakat dari rumah. Mau dijemput ataukah melalui online, semuanya oke.

Tak lupa kan kalau kita wajib bayar zakat di bulan Ramadan? Yang mau bersedekah atau wakaf  juga diperbolehkan. Bukankah semakin banyak donasi “secara ikhlas” semakin banyak pula orang yang menerima manfaat?

Berikut Cara Melakukan Donasi Melalui Online!

Yuk, Intip Program DD dari Donasi yang Sudah Terkumpul!

Apakah Sobat tahu kalau infak dan sedekah itu memiliki arti berbeda? Infaq dikeluarkan untuk kepentingan sesuatu. Artinya bagaimana? Jadi ketika kita mengeluarkan harta, sudah tahu ini mau dibawa ke mana, mau untuk donasi ataukah kebutuhan yang bersifat konsumtif lainnya. Sedangkan sedekah adalah membelanjakan harta atau mengeluarkan dana dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, seperti perbaikan masjid misalnya.

  • Program pendidikan
  • Parsel Ramadan
  • Sedekah Ramadan
  • Berbagi buka puasa Palestina
  • Parsel Ramadan palestina
  • Program advokasi
  • Berbagi buka puasa
  • Sedekah subuh
  • Sedekah jumat
  • Program kesehatan
  • Program ekonomi
  • Program sosial
  • Program lingkungan
  • THR untuk pejuang keluarga

Tertarik untuk mencoba?

Selanjutnya adalah mengenai zakat. Zakat adalah rukun Islam yang ketiga. Sebagai pembersih harta yang kita punya, zakat berupa sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada penerima sesuai syariat Islam.

Zakat sendiri terbagi menjadi dua,  zakat fitrah dan zakat mal. Berhubung di bulan Ramadan, kita harus mengingat adanya zakat fitrah. Istimewa! Baik anak-anak, remaja, orang dewasa ataukah yang renta, perlu membayar zakat. Untuk besaran yang dikeluarkan mayoritas ulama sepakat bahwa zakat harus seberat 2,5 kg atau 3,5 liter beras/ makanan pokok per jiwa.

Sedangkan zakat mal dikeluarkan atas segala jenis harta yang kita miliki. Pun untuk besarannya 2,5% dikali jumlah harta yang tersimpan selama setahun. Namun, tidak semua orang harus melakukan zakat ini, bergantung apakah hartanya telah mencapai nisab (berapa zakat mal yang harus dikeluarkan) atau tidak.

Zakat Mal

Zakat untuk Palestina

Zakat untuk Yatim DHuafa

Zakat untuk Guru Ngaji

Zakat Sembako Dhuafa

Zakat untuk Penghafal quran

Zakat Fitrah

Zakat Penghasilan

Fidyah

Kafarat

Berhubungan dengan wakaf, kita bicara dari kerelaan hati. Wakaf dimaknai sebagai hak pribadi yang diubah menjadi kepemilikan secara umum atau lembaga agar manfaatnya mampu dinikmati banyak orang.

  • Wakaf masjid
  • Wakaf sumur
  • Wakaf kendaraan dakwah
  • Wakaf untuk ibu
  • Wakaf produktif
  • Wakaf pendidikan
  • Wakaf kesehatan
  • Wakaf ekonomi

Nah, kalau dari sisi kemanusiaan tentu saja kepedulian kita akan permasalahan saudara di luar sana.

Bencana Dunia

Indonesia Siap Siaga

DMC

Bencana Indonesia

Dompet Dunia Islam

Melihat banyak manfaat yang dapat kita lakukan, keterbatasan gerak dan tempat bukan lagi halangan untuk tetap berbuat baik. Pun dengan saya yang tinggal di rumah. Tinggal klik donasi DD, kita sudah memberi harapan baru untuk mereka yang membutuhkan.

Yah, selagi kita dapat memberi, kenapa kita harus membiasakan diri untuk menerima?

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jadi Manfaat yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Related Posts

20 thoughts on “Belajar Ikhlas Melalui #30HariJadiManfaat di Bulan Ramadan

  1. Berbicara tentang ‘bertetangga’, emang agak terlalu riskan, kadang emang malah sering urut dada,
    Tapi walau bagaimana pun, ikhlasnya hati bukan saja di bulan ramadhan, emang harus menata hati agar ikhlas di setiap situasi

  2. Ah tetangga masa gitu, hehe.
    Hidup bertentangga emang penuh suka dan duka ya mbak
    Bulan Ramadhan jadi momen yang pas untuk selalu berbuat baik

  3. Harus sabar-sabar dengan tetangga. Mau marah tapi takut jadi besar masalahnya ya. Kalau di Islam harus berbuat baik sama tetangga. Semoga kesabaran dan kebaikan mbak dicatat ya

  4. saya juga merasa ramadhan tahun ini jadi bahan interospeksi bagi diri sendiri juga ini. apalagi saya termasuk yang tidak begitu berinteraksi dengan tetangga. sekedarnya saja. apalagi beberapa kali barangnya anak-anak ada yang rusak karena anak tetangga. memang belajar mengikhlaskan ini perlu proses dan tidak mudah. semoga setelah ini kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, aamiin

  5. Hidup bertetangga memang penuh suka duka tergantung bagaimana kita menyikapinya saja. Dan saya tipikal orang yang nggak begitu banyak berinteraksi dengan tetangga. Cukup sekedarnya saja jadi bisa sebagai antisipasi dari perbuatan ghibah juga kan

  6. Duh ini jadi pelajaran seumur hidup ngga sih? Aku sendiri juga kadang ngerasa ini ikhlas ngga sih? jangan2 engga ya, ragu2 gitu hihi, semoga kita semua terus diberi kekuatan untuk bisa melakukan sesuatu ikhlas karena Allah semata

  7. Tetangga itu adalah orang yang bisa menolong kita paling cepat karena jarak yang dekat. Namun, bisa juga jadi pengganggu terdekat. Semoga kita senantiasa diberikan rezeki tetangga yang baik.

  8. “Salah satu jalan untuk bisa menerapkan ikhlas adalah dengan tidak berharap kepada manusia ketika beramal”. Duh, dalem banget makna kalimatnya Mbak. Sharingnya juga bermanfaat, terima kasih 🙂

  9. Dulu orang selalu bilang kalau kita berbuat baik, orang lain akan berbuat baik ke kita. Tapi realita tidak selalu demikian. Been there done that. Ketika saya alami itu, saya juga perenungan, apakah saya berbuat baik dengan embel-embel atau ikhlas dan mempercayakannya kepada Yang Maha Kuasa.

  10. Banyak sekai hal yang harus senantiasa dijadikan cermin atas apa yang sudah kita lakukan dan harus bagaimana agar bisa menjadi lebih baik lagi. Momentumnya di bulan Ramadan, semoga dengan momentum di bulan penuh berkah, segala yang kita lakukan menjadi amal kebaikan. Dan bersama Dompet Dhuafa, mari bergerak bersama untuk kebaikan Ummat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *