Jantung hatiku
 
Menunggu keberangkatan kereta menuju Bogor tempat dimana aku akan menjalani training sebagain guru di daerah pedalaman ternyata melelahkan. Kereta terlambat lebih dari 4 jam. Diri ini mencoba berbicara dengan penumpang lain untuk menghilangkan rasa bosan. Hingga mata ini menangkap sosok itu sosok yang mengingatkan akan sahabat, saudara sekaligus soulmate.
“Sudah lama ya?”
Sapaku perlahan yang disambut pelukan erat. Senyum dan perasaan ini menghantarkanku ke masa dimana kami pernah bersama.
Saat itu…
Ia masih muda sekitar 18 tahunan, berparas cantik, putih, badannya mungil dan rambutnya tergerai indah sebatas dada. Suaranya renyah mungkin saat bersekolah dulu ia punya hobbi bernyanyi. Senyumnya sangatlah indah, mata teduhnya itu dapat membuat lawan jenis yang memandangnya menjadi klepek-klepek (lebay ya). Ditambah ia sangatlah pandai bertutur kata sehingga teman-temannya pun bertambah banyak. Menurutku, Ia sangatlah istimewa bahkan teramat istimewa karena itulah kami menjadi sahabat ya sahabat yang dekat (begitulah menurutku).
 
Berasal dari keluarga berada membuatnya hidup berkecukupan. Masa-masa SMA menjadi masa keemasanya, prestasi, organisasi, teman dan kepercayaan guru ia miliki sepenuhnya. Disaat seperti itulah kebanggan kedua orang tuanya kian terbang ke langit. Segalanya diberikan, kepercayaan, materi dan semuanya dipenuhi. Terkadang sempat muncul rasa iri di hati, namun segera kutepis dan kuenyahkan.
 
“Uya, kemana lagi? Kok selalu tidak di rumah ih teman laki-laki sering datang ya….”
 
Uya ya uya, begitulah kami memanggilnya. Sang ibu hanya menjawab pertanyaan tetangga dengan senyum, terkadang ia juga menjelaskan kehidupan anak kesayangannya itu. Rutinitas selama dua tahun membuat kami yang berada di sekelilingnya menjadi terbiasa.
Dalam suatu waktu, entah sejak kapan ada sesuatu yang berubah. Ia tidak menjadi Uya yang kukenal. Pertemuan kami menjadi terhalang oleh sesuatu, kehidupannya kini semakin asing dengan kehidupanku. Walau jarang bertemu tapi senyum itu tidak pernah pudar ketika berpapasan.
 
Kini senyum itu telah menghilang dari pemiliknya, jangankan untuk senyum kebebasannya kinipun telah terampas. Ketakutan untuk bersua dengan orang lain menjalar di hati. Sebagai sahabat sekaligus saudara aku menyadari akan posisinya. Isak tangis sang bunda sebagai penghantar cerita membuat kaki yang kupijak terasa bergoyang. Walau aku tidak dapat membantu mengangkat penderitaaannya, setidaknya aku tahu bagaimana sakit hatinya orang tua saat dikhianati oleh jantung hatinya. Air mata dan wajah sayu itu mengungkapkan lebih dari sekedar kata.
 
Uya berada dikamar gelap segelap hari-hari yang telah ia lalui selama beberapa bulan ini. Kedatanganku disambut dengan pelukan dan tangis. Tak banyak kata yang kami ungkapkan tapi isak tangis kami berdua cukup menautkan apa yang telah kami rasakan.
 
“Mbak, aku telah menghancurkan keluarga ini, harga diri keluarga yang selama ini dijaga telah roboh. Aku telah mengecewakan mereka mba….aku takut….Tapi Aku iklhas dengan janin di kandunganku ini mbak.”
 
Ungkapan singkat ini membuat hatiku terkoyak, saat orang tua membangun mimpi untuk sang anak, bekerja keras demi mendapatkan fasilitas pendidikan terbaik dan kebanggaan yang selalu digembar-gemborkan kepada setiap orang yang datang justru dihancurkan oleh anak. Kesalahan dalam sekejab menghancurkan segalanya. Dunia terasa gelap bagi keluarga ini.
 
Keputusan berat harus diambil….!
 
Mencari lelaki yang tidak bertanggung jawab itu?, memperkarakan ke polisi? Menikah dengan orang lain dan putus sekolah? ataukah harus merelakan janin yang dikandungnya dimiliki orang lain? 
 
Allah akan memberi kesempatan kedua kepada hamba yang dikasihiNya. Asalkan hamba itu mau bertobat atas segala kesalahannya. Susu sebelanga sudah rusak karena noda, penyelasan berkepanjangan tidak akan mengubah susu itu. Hanya usaha mengolah susu itulah yang dapat diusahakan sekarang.
 
Sendiri dan berpisah jauh dari keluarga ia sadari bukan sebagai anak buangan. Justru inilah hal terbaik yang bisa diberikan oleh keluarga. Konsekuensi yang harus diambil membuat intensitas pertemuan kami menjadi berkurang bahkan hilang. Dalam keadaan seperti ini ia berusaha mendekatkan diri kepada Sang pemilik Hidup. Ia berupaya mendapat ampunan dan kesempatan untuk bertobat serta mengembalikan senyum orang tua yang telah direnggutnya secara paksa. Ia berupaya mengembalikan fitrahnya sebagai perempuan untuk memakai hijab, memperbanyak doa dan membaca Al-Quran serta memperbaiki dirinya.
 
Waktu adalah obat luka yang ia alami.
 
Tiga tahun telah berlalu, banyak hal yang telah terjadi. Ia menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di daerah Ibu kota. Statusnya kini bukan istri seseorang, ibu seseorang….ia tetaplah seorang gadis (menurut orang sekitar). Jabatan ibu ia simpan dihati. Bayi mungil yang telah dilahirkannya kini menjadi gadis kecil yang cantik dan lincah. Walau tidak bisa bersama dengan jantung hatinya setiap saat, ia hanya selalu bisa berdoa akan kebaikan buah hatinya. Setidaknya ia dapat menghiirup udara bebas, melihat anaknya tumbuh di tengah keluarga yang ia yakini mampu mendampingi anaknya menuju kebaikan.
 
Walau telah jauh, ia tidaklah lupa akan siapa dirinya? Sebagai anak ia selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk keluarga sebagai upaya menebus kesalahannya terdahulu. Walau tidak dapat menyembuhkan luka setidaknya ia mampu berbakti dan membaktikan sisa umurnya untuk keluarga. Dan sebagai ibu ia selalu menyempatkan diri mengamati tumbuh kembang anaknya.
 
Setelah berbincang sesaat, aku sempat bertanya “Apakah ia menyesali semuanya?”
 
“Tentu namun aku akan lebih menyesal jika aku tidak melaluinya. Karena kalau aku terus seperti aku yang dulu, aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi padaku. Pastilah aku lebih hancur dari sekarang. Semua yang kulakukan dulu merupakan kebohongan besar. Aku berbohong pada diriku, orang tuaku dan semuanya. Kehidupanku terasa hambar, namun kini aku telah mencoba jujur pada diriku. Cahaya kehidupan mulai menerangiku. Saat semua terasa goyah, Allah memberikan keluarga sebagai peganganku sehingga aku semakin dekat denganNya. Saat itu memang aku merasa bahwa itu adalah ujian terberatku ternyata aku salah. Justru Inilah kehidupan baruku. Sekarang aku semakin banyak bersyukur.”
 
Peluit panjang menjadi tanda perpisahan kami, kereta yang kami naiki membawa kami ke tujuan masing-masing. Otakku merekam setiap potret tempat yang selama ini kutinggali, semua peristiwanya, orang-orangnya, tempatnya, pokonya semua dan yang pasti peristiwa barusan. Ah sungguh inilah kuasaNya.
 
Semoga kita selalu dalam lindunganNya.
Salam sayang dari keluarga D.

Related Posts

One thought on “Cerita Pembangun Jiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *