Cyber Bullying di Masa Karantina

Perkembangan Perundungan

Bullying ataukah perundungan masih melekat erat dalam tatanan sosial di Indonesia. Disadari ataukah tidak hal ini memang terjadi. Bahkan, mungkin ada di sekitar kehidupan kita. Pun dalam ranah daring. Inilah yang dinamakan cyber bullying.

Tidak semua masyarakat memahami akan semua ini. Ada juga yang masih bingung akan istilah perundungan itu sendiri.

“Apakah perundunguan dan mengejek sama?”

“Apakah hanya mengatakan basi juga disebut perundungan?”

“Baper deh.”

Sumber: tiktok.corner

Inilah kesalahan persepsi yang ada. Apalagi di masa karantina ini. Semua serba sensi. Butuh hiburan satu sama lain untuk melemaskan pundak yang terlalu lelah dalam mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Kadang, demi memuaskan kepuasan diri, kita tidak peduli akan perasaan orang lain.

Perundungan dan ejekan itu saudara. Lebih tepatnya, ejekan bagian dari perundungan.

Miris, Negara yang dikenal menjunjung adat ketimuran yang tekenal akan kesopanannya justru memiliki generasi yang doyan merundung oang lain. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Microssoft sendiri menjadi cerminan bagaimana budaya masyarakat kita dalam menggunakan dunia digital. Yah, walau bukan prestasi setidaknya menjadi cerminan kalau memang ada yang salah di negeri ini.

Sebut saja ada 3 kriteia yang kita ambil dalam penelitian itu. Melansir dari Kompas.com, faktor paling tinggi yang dilakukan netizen Indonesia adalah menyebarkan hoaks, disusul ujaran kebencian dan diskriminasi.

Apakah kita juga menjadi bagian darinya? Semoga tidak.

Jadi, biar tahu kita bagian dari perundung atau tidak, silakan simak karakteristik perundungan dalam ranah digital:

  1. Dilakukan dalam jangka waktu panjang
  2. Pelaku merupakan orang yang dianggap memiliki kekuasaan atau kelebihan dari korban. Mungkin juga dilakukan oleh orang tekenal tehadap kalangan biasa.
  3. Media perundungan yang diambil adalah digital ataukah internet. Biasanya di media sosial seperti facebook (fb), instagram (ig), twitter, whatsapp (wa), ataukah yang lain.

Jejak di Masa Lalu

Pengalaman Mina sebut saja demikian di dalam cyber bullying ini berdampak besar pada kehidupan rumah tangganya. Sejak SMP Mina masuk dalam jejeran gadis cantik di kelasnya, berkulit mulus, bahasanya halus, pun dengan perawakannya yang semampai. Selain karena fisik prestasinya menjadi daya tarik tersendiri. Ia pun menjadi incaran para lelaki.

Teman SMP menjadi media awal bekenalan dengan media sosial, tetapi ia tak menggubris. Fokus sekolah dan upaya membanggakan orang tua masih dipegangnya. Beranjak di SMA, semua pikirannya tergeser. Ia mulai ikut arus teman-temannya untuk mengunggah momen kebersamaan di kelas ataupun kegiatan harian.

Dari sanalah ia bekenalan dengan Adit, lelaki yang mengaku sebagai pekerja di pertambangan dan juga kakak tingkatnya. Awal perkenalan semua masih terasa biasa, saling berbalas komentar dan juga betukar nomor. Namun, seiring waktu berjalan hubungan mereka kian erat. Semuanya terdokumentasikan di media sosial.

Sudah banyak yang mengingatkan dan juga menasehati untuk menjauh dari Adit. Bagaimanapun, perubahan yang ditunjukkan oleh Mina sudah terlalu melewati batas. Namun, cinta telah membutakannya. Ia tak mengindahkan semuanya.

Lulus SMA, Mina memutuskan untuk kuliah dan putus dengan Adit. Namun, benih dari hasil hubungannya dengan Adit tak dapat dihilangkan. Ia dinyatakan hamil di luar nikah, sedangkan Adit tak mau bertanggung jawab.

Kehidupan Mina berubah, ia harus berhenti kuliah dan kembali ke kampungnya. Di saat itulah media menjadi tombak penyiksa setiap langkah Mina. Saat ia mengenakan jilbab, ada yang berkomentar perek (murahan), ada yang juga sampai ingin memesannya layaknya barang. Tidak berhenti sampai di sana, ketika sang anak dilahirkan, hujatan dan juga cemoohan kian membuat Mina terpuruk.

Pun ketika ia akan menikah, dokumentasi di media sosial yang sekiranya dulu dihapus kembali mencuat. Semuanya berantakan. Dia akhirnya menjadi single mom dan harus merelakan kepergian sang ayah yang tak kuat menahan malu.

Beda dengan Mina, Ani mengalami semua perundungan itu justru sejak SMP. Kulitnya yang hitam tanpa polesan bedak, membuatnya menjadi bahan hujatan teman sekaligus warganet. Walau ia sudah menutup akun media sosialnya, cerita tentang betapa gendut dan hitamnya masih menjadi bahan candaan di grup keluarga dan teman-teman alumni sekolah.

Tidak berhenti sampai di sana. Ketika Ani membuka akun baru, kejadian berulang. Ani merasakan ada perubahan dalam dirinya setiap melihat media sosial. Ia menjadi sering bermimpi burruk, mood-nya cepat berganti, gagal fokus dan sering kehilangan pekerjaan. Ia merasa buruk dan tak berguna. Setiap unggahan foto dikatakan caper (cari pehatian), mirip gajah bengkak dan orang negro kok sok-sokan.

Ani sempat ingin bunuh diri, tetapi keluarga berhasil menggagalkannya. Percobaan itu tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali. Sebagai puncak dari apa yang terjadi, ia akhirnya dimasukkan ke pondok oleh orang tuanya. Hari terakhir kami bertemu, ia terlihat lebih baik, wajahnya lebih cerah dan ceria. Kalau sekarang, ia sudah berkeluarga dan memutuskan untuk tinggal di desa.

Jenis Cyber Bullying

Dalam hal ini tindakan provokasi, penghinaan, mengejek ataukah segala sesuatu yang dapat menyinggung orang lain masuk di dalamnya. Pun kalau kita menerima pesan yang berisi gangguan secara terus menerus. Semuanya masuk dalam ranah perundungan.

Yang paling sering terjadi, hal ini biasanya ada dalam sebuah komentar di media sosial. Secara tidak langsung hal ini mengundang orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Pencemaran nama baik pun tak kalah menakutkan. So kalau mau menyebarkan info atau berita sebaiknya dilihat dulu kebenarannya. Dicari infonya lebih mendalam. Jangan sampai kita seara tidak sengaja menjadi bagian dari perundung.

Dalam hal ini kita memutus hubungan korban dengan orang lain. Semisal dalam suatu grup sekolah, semuanya diundang untuk pesta ulang tahun. Namun, karena si A ini anak orang tak punya, ia tak diudang. Pun sama kalau hal ini terjad di lingkungan keluarga. Kita dikucilkan dan tak dianggap dalam pembahasan grup.

Cara pelaku yang lebih ekstrim lagi dengan menyebarkan rahasia korban ke dalam ranah publik sehingga menggiring orang lain untuk menjauhinya. Bahkan, menjadikan semua itu menjadi bahan lelucon.

Dalam hal ini memata-matai apa yang kita lakukan. Hidup dalam penuh pengawasan dan ancaman dalam melakukan kehidupan sehai-hari sangatlah tidak nyaman. Apalagi kalau pelaku memahami akan dunia digital dan menggunakannya untuk meretas, merampok, ataukah mempermalukan korban.

Dampak yang Terjadi

  • Psikologis:

            Mudah depresi, marah, timbul perasaan gelisah, cemas, menyakiti diri sendiri, dan adanya percobaan bunuh diri.

  • Sosial

            Menarik diri, kehilangan kepercayaan diri, lebih agresif kepada teman dan keluarga .

  • Di kehidupan

Sekolah: penurunan prestasi akademik, rendahnya tingkat kehadiran, perilaku bermasalah di sekolah. 

Tempat kerja: penurunan kinerja, kurangnya kepedulian akan orang lain, menyendiri.

Apa yang harus kita lakukan?

Korban

Jika berada di posisi korban, setidaknya menyimpan energi positif itu sangat penting, di antaranya:

  • Berusaha besikap masa bodoh. Awalnya memang sulit dan susah, tetapi hubungan yang kasat mata ini memberikan ruang bagi kita untuk bisa menyembunyikan diri dari pelaku. Kesempatan inilah yang digunakan untuk memulihkan kepercayaan diri kita.
  • Jika tidak sanggup,mintalah bantuan orang terdekat. Bisa orang tua, teman, ataukah tenaga ahli.
  • Bertindak tegas, dalam hal ini untuk menyikapi akun pengganggu. Dimulai dari menyaring petemanan. Ataukah mengatur unggahan ke hanya pertemanan, jadi postingan ataukah unggahan kita hanya diketahui orang terdekat.
  • Jika akun masih pelaku masih mengganggu, bisa di banned  ataukah dilaporkan. Dalam hal ini facebook ataukah instagram sudah memberikan panduan di pengaturan.
  • Melepaskan sumber energi negatif sementara waktu, di sini adalah ponsel. Pun kalau sudah tenang dan berjalan, kita bisa mencoba menggunakan ponsel secara bijak dan teratur. Semisal, sehari ada free ponsel di meja makan, di tempat tidur ataukah saat liburan.
  • Belajar untuk  bekomentar yang baik. Kita meminta maaf kalaupun dirasa menyakiti orang lain.
  • Berlatih mengucapkan terimakasih kepada yang mengingatkan dan tak meladeni komentar yang bernada memojokkan.
  • Melaporkan tindakan perundungan melalui ahli seperti di Bully.id Indonesia

Orang tua

  • Sebelum memberikan ponsel, sudah selayaknya kita membekali anak akan bahaya komunikasi bebas dan tak terkendali.
  • Menjalin hubungan dengan anak adalah sesuatu yang sangat penting, anak percaya dan menganggap orang tua sebagai teman. Sedangkan orang tua menganggap kalau anak memang sudah memiliki tanggung jawab dan memberinya kebebasan di bawah pengawasan.
  • Orang tua menyediakan waktu untuk berdiskusi bebas, pun salah satunya membahas hubungan pertemanan.
  • Di kala anak mengalami masalah dengan teman, ornag tua memfokuskan pelatihan agar anak mau dan mampu menghadapi permasalahannya sendiri. Setidaknya tanyakan,

“Ada apa?”

 “Apakah penyebab semua ini?”

“Apa yang akan kakak lakukan sekarang?”

 “Bagaimana kami bisa membantu?”

Bukannya selalu melakukan pembelaan!

  •  Berusaha untuk melek teknologi, setidaknya tahu cara membuka fb ataukah instagram

Tips Menghadapi Cyber Bullying

1.Tenang

2.Abaikan

3.Kumpulkan bukti

4.Laporkan

5. Blokir 

Yuk, budayakan untuk berkomentar positif di mana pun berada.

Related Posts

One thought on “Cyber Bullying di Masa Karantina

  1. Meilleure application de contrôle parental pour protéger vos enfants – Moniteur secrètement secret GPS, SMS, appels, WhatsApp, Facebook, localisation. Vous pouvez surveiller à distance les activités du téléphone mobile après le téléchargement et installer l’apk sur le téléphone cible.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *