Sejak hari pertama berumahtangga,  menantu yang baik hendaknya meniadakan pikiran bahwa ibu suaminya adalah pesaing dalam meraih kasih sayang suami.

Ada sesuatu yang menarik dan itu perlu kita pahami. Kita tidak menemukan contoh tentang bagaimana seharusnya hubungan menantu wanita dengan mertua dari kisah istri Rasulullah SAW SAW, karena beliau sudah yatim piatu sejak kecil. Begitu pula masalah hubungan menantu wanita dengan ibu mertua tidak ditemukan dalam kisah para sahabat Rasulullah SAW.


Hubungan antara menantu wanita tidak termasuk yang dibahas secara khusus dalam kitab tentang pernikahan oleh karena itu muncul masalah hubungan menantu wanita dengan mertua hanya terjadi pada masa belakangan, dimana nlai-nilai ajaran islam tentang pernikahan sudah tidak lagi dipahami.


Sebagai pembuka perihal hubungan mertua-menantu, alangkah bijak kita menyimak cerita salah seorang sahabat, Alqomah. 


Di masa kenabian Nabi Muhammad SAW, Alqomah seorang yang rajin dalam masalah ibadah shalat, puasa dan sedekah. Namun suatu waktu dia jatuh sakit yang teramat parah—tepatnya dalam keadaan sakaratul maut. Namun entah kenapa Alqomah yang taat itu kesulitan untuk melafalkan kalimah “La ilaaha illallah”. Hingga sang istri meminta tolong pada seseorang untuk menemui Rasulullah SAW SAW, untuk menyampaikan pesan tentang keadaan suaminya pada Rasulullah SAW SAW.


Nabi pun mengutus Bilal, Ali, Salman dan Ammar r.a untuk datang ke rumah Alqomah. Di sana mereka menyaksikan betapa Alqomah dalam keadaan yang memprihatikan. Mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin seorang yang taat pada Allah dan Rasulnya itu kesulitan dalam melafalkan kalimat “La ilaaha illallah”. Lidah Al-Qomah seperti terkunci ketika akan melafalkan kalimat itu.


Merasa khawatir mereka kini mengutus Bilal untuk menyampaikan apa yang mereka saksikan kepada Rasulullah SAW.


Rasulullah SAW pun bertanya, “Apakah Alqomah masih memiliki ayah dan ibu?”


“Ayahnya sudah meninggal. Tapi dia masih memiliki seorang ibu yang sudah renta,” jawab Bilal apa adanya.


“Baiklah, temuilah ibu Alqomah. Aku titip salam untuknya. Jika dia masih mampu berjalan dia bisa menghadapku, jika tidak bisa maka aku yang akan ke sana.” Rasulullah SAW menitahkan itu pada Bilal.


Sebagaimana yang dikatakan Rasulullah SAW, Bilal menyampaikan itu pada Ibu Alqomah tanpa menambah dan mengurangi.


“Lebih baik aku yang menemui Rasulullah SAW,” ucap Ibu Alqomah.


Meski sedikitt tertatih-tatih dengan tongkat sebagai penyangga, Ibu Alqomah menemui Rasulullah SAW. Dia mengulukkan salam dan langsung disambut Rasulullah SAW.


“Jadi bisakan ibu menceritakan bagaimana keadaan Alqomah yang sebenarnya? Kenapa dia nampak kesulitan melafalkan kalimat “La ilaahs illallah’, padahal setahu saya dia seorang hamba yang rajin lagi taat.” Rasulullah SAW meminta penjelasan.


“Karena aku murka padanya, Rasulullah SAW.” Ibu Alqomah menjawab.


“Adakah alasan kenapa engkau sampai murka?”


“Karena Alqomah sudah menyakitiku. Dia lebih mengutamakan istri daripada ibunya. Dia berani mentangku demi menuruti keinginan istrinya.”


Rasululllah pun mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Bahwa yang mengunci lidah Alqomah hingga tidak bisa melafaklan kalimat “Laa ilaaha illallah” adalah karena murka dari ibunya sendiri.


Kemudian Rasulullah SAW memanggil Bilal. Menyuruh Bilal untuk meengumpulakn kayu sebanyak-banyaknya untuk membakar tubuh Alqomah.


“Ya Rasululah, kenapa engkau mau membakar putraku di depan mataku? Bagaimana perasaanku nanti?” tanya Ibu Alqomah sedih. Yah, bagaimana pun seorang ibu mana bisa melihat putranya di bakar di depan matanya sendiri.


“Wahai Ibu Alqomah, sejatinya siksa Alla nanti di akhirat akan lebih kejam. Segala amal yang dilakukannya selama ini tidak dapat diterima oleh Allah karena terhalang akan siksamu. Kebajikan yang dilakukan jadi tidak berguna dan tak bisa membantu selamat dari api neraka..” Rasulullah SAW menjelaskan.


“Jika engkau ingin putramu selamat dari api neraka, engkau harus merelakan apa yang telah Alqomah lakukan.”


“Baiklah Rasulullah SAW, aku akan memaafkan putraku. Aku sungguh tak sanggup mengetahui jika anakku akan masuk neraka karena diriku.” Ibu Alqomah berucap sungguh-sungguh.


Rasulullah SAW lalu memerintahkan Bilal untuk mengecek keadaan Alqomah. Memastikan apakah Alqomah sudah bisa melafalkan kalimat “ Laa ilaaha Illallah’ atau belum. Karena jika sang ibu mengatakan semua itu hanya karena malu bukan dari hati maka apapun bisa terjadi.


Namun ternyata Ibu Alqomah sungguh tulus telah memaafkan putranya. Karena ketika Bilal sampai di pintu rumah Alqomah, dia mendengar Alqomah mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallah”.


Bilal lalu masuk dan memberitahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada keadaan bilal itu. Tentang lidah Alqomah yang terkunci tidak bisa mengucapkan kalimat syahadat karena mendapat murka dari ibunya. Bahwa segala amal yang dilakukan Alqomah tak dapat menolong karena murkanya seorang ibu pada anak.


Dan hari itu setelah ibunya memaafkan Alqomah, dia pun kembali kerahmatalullah. Dia lalu dimandikan, dikafani dan di shalatkan oleh Rasulullah SAW.


Setelah dikuburkan Nabi Muhammad SAW berkata :

“Wahai sahabat muhajirin dan anshar, siapa yang mengutamakan istrinya daripada ibunya maka ia terkena laknat Allah, Malaikat dan manusia semuanya, bahkan Allah tidak menerima dari padanya ibadah fardu dan sunatnya. Kecuali jika bertaubat benar-benar kepada Allah dan berbuat baik pada ibunya, dan minta kerelaannya, sebab ridha Allah dikaitkan dengan ridha ibu, dan murkanya Allah juga di dalam murka Allah.”

Apa hikmah yang dapat kita ambil dari kisah di atas?

***

Walau tidak tergambar secara eksplisit, namun secara tidak langsung kisah itu menekankan pentingnya seorang menantu untuk berbakti kepada mertua. Seperti anak kandung berbakti kepada orang tuanya.


Seperti yang kita ketahui bahkan dalam hadits jelas tergambarkan bahwa wanita yang menikah adalah hak suami, “Dari Aisyah r.anha, ia berkata, saya berkata kepada Rasulullah SAW SAW, “Ya Rasulullah SAW, siapakah manusia yang paling besar haknya kepada seorang wanita/istri? Beliau menjawab, “Suaminya.” Aku berkata,”Dan siapakah manusia yang paling berhak terhadap seorang laki-laki/suami? Beliau menjawab,”Ibunya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i, Al-Hakim, dan Imam Al-Bazzar.)


Dalam memahami hadits ini, haruslah tetap diingat bahwa seorang istri harus berbakti kepada suami. Bakti kepada suami salah satunya ditujukan dengan berbakti kepada orang yang disayangi dan dihormati suami termasuk mertua/ orang tua suami. Jadi apakah perlu dipertanyakan lagi mengenai peran menantu di sini? Padahal hukum asal mengenai berbakti kepada kedua orang tua adalah wajib bagi setiap anak .Hal ini berlaku untuk kedua orang tua dari pihak laki-laki atau pun wanita. Jadi kewajiban berbakti itu terletak di pundak keduanya.


Jika suami sadar ia telah memiliki hak yang lebih besar daripada orang tua istri, suami berkewajiban menjaga hubungan baik dengan kerabat. Dan seorang istri pun ditekankan untuk menjaga hubungan baik dengan kerabat suami, untuk memperkuat jalinan suami-istri.


Namun, ada kondisi dimana hadist tersebut tidak dapat diterapkan dalam kehidupan rumah tangga. Salah satunya, jika sang suami tidak menyadari kewajibannya. Misal, suami hanya mementingkan kepentingan orang tuanya tanpa mempedulikan kepentingan istri atau keluarganya. Dengan demikian, makna pernyataan bahwa yang paling berhak terhadap seorang wanita yang sudah menikah adalah suaminya, bukan sesuatu yang mutlak. Terlebih jika sang suami memerintahkan untuk berbuat durhaka kepada kedua orang tua wanita.

Mengenal Hak mertua

Mertua adalah orang tua pasangan kita yang sangat besar pengaruhnya pada kebahagiaan rumah tangga. Pengaruh hubungan ini dirasakan sampai akhirat kelak ketika hamba dimintakan pertanggungjawaban oleh Allah SWT. “…. Dan, bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)  nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” ( QS an-Nisa [4] :1 ).


Di bawah ini merupakan  hak mertua yang perlu kita (sebagai menantu) pikirkan, diantaranya dipelihara hubungan silaturahim dengan anaknya, juga hak mertua untuk dimuliakan oleh menantunya, sebagaimana anaknya yang wajib memuliakan kedua orang tuanya. Seriusnya permasalahan ini sampai keluarga anak berkewajiban menafkahi jika kedua orang tua tidak sanggup lagi memenuhi hajat hidup kesehariannya.


Semua itu seperti yang dikatakan Allah dan Rasul-Nya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya. Dan, berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak  yatim, orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” ( QS an-Nisa [4] : 36 ).


Namun, jika dalam kesehariannya ada kekurangan dan hal yang mengecewakan dari keluarga pasangan (mertua/ ipar), jangan terburu-buru menilai negatif atau menganggap mereka sebagai musuh walau pun jelas-jelas perbuatan mereka menunjukkan permusuhan.


Sebab, kemungkinan terbesarnya bukan kejahatan yang mereka inginkan saat terkesan ikut campur dalam urusan rumah tangga kita, tapi kemungkinan terbesarnya adalah karena kebaikan dan kasih sayanglah yang mereka inginkan, hanya caranya yang barangkali kurang tepat menurut kita. Untuk itu, ingat pesan Allah dalam surah Fushshilat ayat 34-35.


“Dan, tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang yang sabar dan orang-orang yang mempunyai keuntungan besar.”


Balaslah kejahatan dengan kebaikan yang lebih baik dari yang biasanya menurut ukuran sosial. Allah akan meluluhkan hati orang yang bertikai menjadi saling mengasihi dan menyayangi. Allah akan menolong rumah tangga kita selama kita membalas kejahatan dengan kebaikan demi terjalinnya silaturahim dan terbebas dari permusuhan. 

Catatan Hati

Mengenai hubungan mertua-menantu, umumnya hubungan antara menantu laki-laki dengan ibu dan ayah mertuanya  tidak ada banyak masalah, begitu pula antara menantu wanita dengan ayah mertua. Yang sering terjadi masalah adalah hubungan menantu wanita dengan ibu mertuanya. Entah kenapa kedua sosok  ini sering digambarkan sulit akur. Sehingga bila ada istri yang menceritakan konflik dengan ibu mertuanya maka komentar yang keluar,  ‘Sudah biasa’.


Ungkapan  Setajam-tajamnya pohon lidah buaya masih tajam lidah mertua”, seolah membernarkan mitos tentang ibu mertua yang cenderung digambarkan sebagai sosok ‘peyihir’ terhadap menantu wanitanya. Ibu mertua yang judes, egois, sewenang-wenang, selalu ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya, seolah-olah menjadi gambaran yang mewakili sosok ibu mertua secara umum. Gambaran serupa bisa dijumpai di sinetron-sinetron televisi.


Apakah hubungan itu sudah pasti ‘buruk’ seperti itu? Nah, kalau ada mertua yang menggugat! Menantuku yang justru menyiksa batinku, bagaimana? Kita hanya perlu tersenyum dan bilang inilah hukum alam. Dimana saat ada orang baru memasuki kehidupan kita, proses adaptasi kita mempengaruhi perilaku yang tercermin setiap harinya.

Jadi, kalau ada pertikaian mertua/menantu, siapakah yang patut disalahkan?

Jika pertanyaan seperti itu muncul dalam benak kita maka jawabannya bisa keduanya ataukah tidak ada yang salah diantara keduanya. Bagaimana bisa? Jika mertua-menantu di sini memahami perannya maka permasalahan yang bisa berkembang menjadi pertikaian bisa ditekan. Walau tidak bisa dikatakan bebas setidaknya semua itu bisa dikendalikan. Nah, jika yang muncul adalah pembelaan maka salah satu pihak akan  menyalahkan pihak lain. Padahal jika diresapi lagi permasalahan itu muncul dikarenakan ketidaksiapan kita dalam menghadapi permasalahan hidup. Jadi yang lebih tepat adalah menginstropeksi kekurangan daripada menyalahkan.


Untuk itulah, sebagai menantu kita harus pandai mengambil celah untuk menjadi ‘menantu kesayangan’ dan membuktikan masih ada menantu yang sayang dan peduli dengan mertua begitu juga sebaliknya.


Kita bisa memulai langkah dengan memainkan peran dalam mengharmoniskan hubungan orang tua-anak. Antara lain dengan mengembangkan sikap-sikap berikut; mengutamakan kepentingan suami daripada kepentingan pribadi, memuliakan kerabat suami, dan meningkatkan sikap memuliakan orang tua suami (mertua), terutama ibu. Semua sikap ini tidak lain adalah perbuatan memuliakan suami dan bakti terhadap suami. Di samping itu, perbuatan tersebut dapat membahagiakan suami, memperkokoh ikatan suami-istri, dan memadamkan bara api fitnah.


Selain itu, memuliakan orangtua  suami saat mereka berusia lanjut merupakan perilaku islami utama, yang menunjukkan kemuliaan jiwa dan kedermawanan seseorang, mendatangkan ridha suami, mendapat simpati kerabat suami, menghindarkan diri dari pertikaian dan perpecahan, dan membuka pintu terkabulnya doa bagi istri.

Selamat berinstropeksi diri. Salam saying dari keluarga D>

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *