Ketika Bunuh Diri Menyapa, Blog Datang Menyela

“Semua orang menginginkan kematianku!”

Itulah yang saya rasakan ketika Bapak berselingkuh. Bapak, sosok yang selama ini menjadi panutan. Bapak, seseorang yang setiap kali dalam doa selalu saya sebut. Pun ketika ingin memilih suami, saya hanya berharap dapat lelaki yang dapat menyayangi saya seutuhnya. Seperti ia yang selalu menanyakan kabar, menangis tatkala saya sakit ataukah paling bahagia ketika saya pun bahagia.

Selama ini, hubungan saya dengan ibu tidak terlalu dekat. Bukan berarti tidak sayang, hanya saja Bapak lebih mampu menerima pilihan saya. Entah dalam pendidikan, karir, berteman ataukah semuanya. “Asal bisa bertanggungjawab dengan pilihanmu, ya sudah!” Sampai malam di mana berita perselingkuhan itu terdengar, kalimat itu seakan menjadi mantra untuk membuat saya kuat di perantauan.

Alam seakan menertawakan, sejak saat itu kepercayaan saya pada lelaki berubah. Apalagi kepada diri sendiri. Benarkah saya disayang? Ketika orang yang sejatinya paling menyayangi ternyata dengan mudah menyerahkan singgasana di hatinya pada perempuan lain.

Layaknya bunga yang tidak terawat, kekuatan di hati saya rontok satu per satu. Ada saat di mana semuanya memburuk, hubungan dengan keluarga renggang, pernikahan kacau, apalagi mengenai karir. Ambyar pokoknya, hidup rasanya tinggal say goodbye. Pandangan positif yang saya bangun seakan runtuh tergantikan persepsi negatif. Sejak itulah, saya merasa siapa pun bahagia melihat saya menderita.

Kematian adalah jalan tercepat untuk melepas belenggu itu, tetapi masih tersisa rasa takut. Bagaimana kalau saya masuk neraka, bagaimana kalau saya bunuh diri dan gagal? Apa tidak semakin menderita jika mendapat luka parah? Pun bagaimana dengan si Meong (kucing peliharaan)? Siapa yang mau mengurusnya.

Pertanyaan seperti itu, berputar-putar di kepala. Membuat benang kusut yang bersemayam di sana menarik setiap syarafnya hingga menegang. Entah sudah berapa pil yang saya minum untuk bisa membuat saya sekadar tidur. Walau sesaat menghilang, rasa penyesalan, kesepian dan juga amarah bisa muncul tiba-tiba di waktu yang tidak diharapkan.

Fenomena Bunuh Diri

Kejadian bunuh diri tidak hanya dilakukan oleh idol seperti Jonghyun (Shinee) ataupun Sulli (fx). Di kalangan rakyat biasa, kejadian ini juga ada. Namun, terkadang tidak dihiraukan ataukah tidak dipublish dimedia sosial. Seperti yang dialami nenek (J) salah seorang tetangga yang telah berusia lebih dari 80 tahun. Sebagai seorang nenek yang seharusnya menikmati waktu bermain dengan cucu, ia justru gantung diri di pohon randu karena bertengkar dengan anak sulungnya.

Penyebab bunuh diri di kalangan bawah ini juga beragam, ada yang karena ekonomi, asmara, perundungan ataukah karena malu. Dari sekian banyak faktor, tidak ada yang berdiri sendiri. Biasanya bunuh diri adalah puncak dari berbagai faktor pemicu yang datang silih berganti.

Ketika kita menghadapi kenyataan di luar kendali emosi dan kapasitas untuk menyelesaikannya, diri kita akan terpojok dan buntu. Jalan pintas dengan menghilang dari dunia adalah pilihan terbaik.  

Pada 2016, itulah yang saya rasakan. Beruntung Allah mendatangkan janin yang membuat saya semakin kuat. Dimulai dari bertemu dengan dosen saya terdahulu, ia menjembatani diri ini untuk bisa bertemu rekannya dan di antara mereka ada yang psikolog. Tidak hanya sekadar sharing, kami membicarakan banyak hal. Ia pun juga mengajak ke pertemuan Single Mom dan juga panti asuhan. Yang tak kalah penting, ia membuka pemahaman saya mengenai kehidupan perempuan, termasuk dalam memaknai poligami dan perselingkuhan.

“Baik dan buruk itu begantung sudut pandang. Poligami pasti ada sebabnya, entah karena kebutuhan ataukah karena yang lain. Tak terkecuali dengan perselingkuhan. Hidup itu terus bergerak. Ketika tersakiti cobalah bersyukur dan menyayangi. Maafkan diri sendiri, setelahnya apresiasi diri. Saat kita bisa menghargai diri sendiri, di sanalah sejatinya orang lain akan menghargai kita.”

Lily Agustina

Perkenalan dengan Blog

Ada banyak hal yang terjadi, bulan berlalu begitu saja. Pengalaman dan kenangan berjalan seiring pilihan yang diambil. Saya mulai membuat akun facebook April Ida. Akun ini sempat terlupa. Sengaja lebih tepatnya. Demi berlatih menulis saya membuka akun baru. Di mana saya bisa menciptakan dunia yang mampu membuat merasa nyaman. Sokoomah.

Mengapa akhirnya menulis? Hal inilah yang bisa saya lakukan di tengah kesibukan yang ada. Saya kurang cakap memasak, menjahit apalagi berjualan. Menulis adalah jalan ninja untuk menyibukkan diri. Tidak ada waktu untuk rebahan yang membuat pikiran justru ke mana-mana.

Sedari sekolah, saya cinta menulis. Mulai dari menulis cerpen, menulis surat untuk ibu atau bahkan joki menulis surat untuk menyatakan cinta. Ah, saat mengenang bagaimana saya menulis di masa dulu, ada secercah kebahagian yang menelusup dalam ruang hati yang gelap.

Berawal dari niatan untuk berbagi ilmu yang saya kuasai,  tulisan demi tulisan pun mengalir. Cepen, artikel, dan juga curhatan setiap hari tertuang di sana. Nyatanya, kehidupan yang terbatas akan dinding rumah membuat tekanan kembali meningkat. Butuh proses yang cukup lama untuk bangkit, apalagi ketika tulisan kita dipenuhi kritik yang jarang disertai saran membangun.

Dulu, sewaktu meminta pendapat suami akan dunia kepenulisan, jawaban pertama yang teringat darinya, “Apakah bisa menghasilkan uang?”

Pertanyaan logis yang sulit untuk dijawab. Bahkan, sampai sekarang pertanyaan ini masih belum bisa terjawab dengan puas.

Dunia kepenulisan yang lebih keren dikenal dengan dunia literasi memiliki daya tarik tersendiri. Sulit tapi nagih. Facebook di rasa tidak kondusif, saya beralih ke instagram, siapa tahu bisa menulis dengan kalimat lebih pendek plus dapat bonus membuat gambar keren.

Nyatanya, membuat desain hingga menghasilkan gambar itu sulitnya minta ampun. Lebih baik saya membaca buku sejarah daripada membuat gambar. Di saat itulah saya mulai mengenal blog. Pikrian saya waktu itu, senang sekali kalau bisa membuat dunia literasi yang menunjukkan ini lo gue!

Berbekal domain dari bantuan teman, saya mulai menulis. Topik mengenai pendidikan dan pengasuhan dipilih. Seiring berjalannya waktu, mengarang itu perlu ilmu dan tidak bisa sembarangan. Modal nekat telah tergerus akan ketidakpedean, sehingga mau tidak mau harus ada upaya untuk berbenah. Salah satunya dengan rehat sejenak.

Setahun lebih berlalu. Sibuk membangun dunia baru justru membuat hubungan saya dengan teman dan saudara semakin mundur. Jarak menjadi jeda, komunikasi pun melebarkan ikatan persaudaraan. Di saat itulah ada keinginan untuk membuka blog lagi.

Berhubung yang dulu sudah tidak bisa digunakan, kali ini membuat blog baru dengan semangat baru pula. Satu persatu komunitas blog mulai saya ikuti. Perkenalan dengan teman baru dimulai. Saya masih canggung, tetapi ada gairah untuk terlibat kegiatan. Bagaimana pun saat ada yang menyapa apalagi memberikan perhatian, saya merasa senang dan puas.

Tips Berada di Fase Krisis

Siapa pun pasti pernah berada di posisi terendah dalam hidupnya. Pun ketika saya berada di posisi itu, saya pernah ingin menyerah. Namun, setelah berdiskusi dengan suami. Ada satu hal yang membuat hubungan kami semakin membaik, komunikasi.

Selama ini, suami menganggap saya perempuan kuat, cuek, tak butuh bantuan apalagi kehadiran suami. Padahal kenyataan yang ada sebaliknya. Kami memiliki persepsi berbeda karena tidak ada komunikasi yang terjalin. Ia berasumsi dari apa yang di pikirannya, pun saya.

Sejak saat itu, saat saya ada masalah dan memang tak mampu untuk menceritakannya, saya tuangkan semuanya . Entah dalam doa, tulisan ataukah cerita. Menyalurkan emosi membuat saya merasa lebih nyaman. Bagaimanapun, emosi dan kinerja tubuh itu berkaitan.

Di bawah ini ada beberapa hal patut untuk dicoba , di antaranya:

Mencatat setiap pikiran yang muncul

Bila malas menulis di atas kertas, bisa di atas di ponsel. Kalau masih malas mengetuk gunakan voice recorder. Ungkapkan segala hal tentang fisik, mental, emosi, dan spiritual. Plus disertai dengan kekurangan dan kelebihan diri. Pun ketika waktu terasa sangat berat dan sulit, kita perlu mencatatnya, kenapa dan apa pemicunya.

Membayangkan Masa lalu yang menyenangkan

Pada umumnya kita mengungkapkan keinginan dan kepribadian secara jujur di masa kanak kanak. So, waktu kecil mau jadi apa, kok sekarang seperti ini?

Menjauh dari cermin untuk sementara waktu

Ini penting bila berhubungan dengan fisik, dulu saya selalu membenci bercermin, kenapa? Wajah saya mirip Bapak, saat melihat cermin saya seperti melihatnya lagi.

Melihat ke dalam diri sendiri

Ketika ada masalah, temukan dulu penyebabnya. Selain berfokus dari apa yang mengganggu, kita catat pula respon yang kita berikan. Memang sangat mudah menyalahkan orang lain. Namun, hanya sedikit orang yang mau menerima kekurangan diri. Melihat dalam diri sendiri ini memudahkan kita untuk mengenali diri sendiri sekaligus mengevaluasinya.

Melihat ke dalam diri sendiri dari luar

Saat merasa tersakiti, kita butuh pengakuan dan kenyamanan dari orang lain. Bukankah ini suatu kebutuhan? Kalau kita membutuhkannya, bukankah orang lain pun akan demikian! Sesekali memposisikan diri sebagai orang lain memudahkan diri menerima kenyataan.

Pun dengan perselingkuhan Bapak. Saat itu terjadi, saya mulai mempertanyakan, bagaimana sikap ibu sebelumnya ke bapak dan kesulitan yang dialaminya saat bekerja jauh dari keluarga dan jarang pulang (palingan tiga bulan sekali, bila beruntung dua minggu sekali).

Perjalanan Sebagai Blogger

Saya tak bisa kembali. Sekali mengerjakan atau tidak sama sekali.

Apiida Sokoomah

Kenekatan itu membuat saya bertahan.  Usia saya tak muda lagi, kalau masih menjadi pemilih dan tidak konsisten justru akan merugikan diri sendiri. Saya pun mulai membaca berbagai blog perempuan. Blog milik Mbak Widiyanti Wulandari menjadi blog pertama yang membuat saya jatuh cinta. Wow, blog nyatanya bisa terlihat indah tetapi bisa memberikan informasi dan makna. Dari sanalah saya melakukan blog walking.

Pertama kali ngeblog, masih intip-intip milik yang lain. Apalagi setelah lama hiatus blog dan memulainya lagi.  Ada kecanggungan, tetapi semua segera dienyahkan. Saya butuh berubah. Kalau cepat menyerah, pasti hasilnya tak akan jauh berbeda dari sebelumnya.

Menulis blog = Berpikir kritis

Sebelum menuliskan sesuatu ada pertimbangan yang saya lakukan. Selain untuk sekadar mengisi tulisan, saya memiliki visi untuk mengubah mindset perempuan agar lebih produktif dan aware dengan dirinya sendiri. Tidak hanya yang berhubungan dengan kasus bunuh diri tetapi juga mengenai kekerasan seksual dan segala isu yang mengepung dunia perempuan.

Jadi ketika saya menulis, setidaknya ada riset yang dilakukan. Dari sinilah pemikiran dan pengetahuan saya bertambah, saya bisa tahu istilah baru seperti mental illness, depresi, inner child ataukah mengenai perkembangan teknlogi.

Dalam menulis blog lebih leluasa untuk mengekspresikan diri

Sebagai pejuang pertahanan hidup, saya membutuhkan aliran rasa yang tepat. Selain sebagai jalan untuk menenangkan diri juga membuat saya lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain.

Ada tanggungjawab yang harus dipertahankan

Ketika di dalam website ada nama saya, ada rasa bangga sekaligus deg-degan, bagaimana kalau pembaca tidak menyukai tulisan saya, bagaimana kalau artikel saya masih amburadul ataukah belum memenuhi standar bebas plagiasi. Berbagai pertanyaan inilah yang perlahan menggiring saya untuk berkembang dan berubah. Kalau bukan dimulai dari diri sendiri, lalu dari siapa?

Healing itu perlu dicari dan dipraktikkan

Permasalahan ingin bunuh diri pemicu awalnya. Tulisan, media saya untuk berkomunikasi. Blog, menjadi wadahnya.

Tiada yang dapat memastikan apakah cara ini sesuai dengan semua orang. Proses healing setiap orang berbeda, walau dengan metode sama, waktu pemulihan siapa yang bisa menjaminnya. Saya pun menemukan jalan ini, tidak sebentar butuh waktu empat tahun lebih untuk menyesuaikan diri. Walau masih beberapa bulan menjalani, saya sudah menikmatinya, emosi pun dapat lebih terjaga.

Menjadi Inspirasi Diri Sebelum Menjadi Inspirasi orang lain

Ada banyak orang terutama perempuan yang masih sulit untuk mengungkapkan rasa, padahal permasalahan bunuh diri ini lebih banyak dilakukan oleh perempuan. Saya tidak mau terlalu sesumbar, tetapi dalam blog ini ada harapan dan doa saya untuk bisa memberikan pandangan baru bagi perempuan yang mengalami kesulitan di luar sana.

Percayalah, masih ada banyak hal yang bisa dinikmati dari menulis.

Yakinlah, masih ada yang menyayangi diri kita setulus hati.

Berdoalah, Layaknya membangun harapan untuk tetap menjaga pelita hidup.

Mulailah bergerak sebelum nyala hidup padam.

So, apakah kita mau melewatkan kesempatan ini? Kalau saya sudah menemukan jalan di blog, bagaimana dengan kalian?

Related Posts

2 thoughts on “Ketika Bunuh Diri Menyapa, Blog Datang Menyela

  1. Halo, mbak. Ini pertama kali saya baca artikel di blog mbak. Langsung ngerasa jleb. Bener-bener terasa bahwa writing is healing.

    Mbak strong sekali. Saya suka dgn aura dari tulisannya.

    Semoga sehat dan bahagia selalu mbak..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *