ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)

Mengajar di Pedalaman Tutar Lebih Terencana dengan ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)

Perempuan itu berdaya. Gender tak bisa menghalangi seseorang untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Pun termasuk sebagai pendidik, pengajar dan pemimpin di daerah yang tergolong tertinggal dan terpencil. Salah satunya di Tutar, Sulawesi Barat.

Tutar merupakan kecamatan yang didominasi oleh kebun cokelat dan hutan. Jarak terdekat antar dusun dapat ditempuh sekitar setengah jam. Jalanan utama dapat dilalui motor, mobil dan sepeda. Jalan setapak ataupun pegunungan dilalui kuda dan motor yang telah dimodifikasi. Biaya yang diperlukan cukup mengosongkan kantong. Bila ingin berhemat, jalan kaki dengan melewati jalan alternatif (menembus kebun cokelat atau sungai) adalah pilihan terbaik.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Tahun 2021 menjadi awal kebangkitan Tutar dalam transportasi. Jalan yang semula berlumpur dan sulit dilalui telah diperbaiki. Fasilitas pun turut berkembang. Salah satunya di bidang pendidikan.

Internet sudah mulai dapat dijangkau, khusunya di daerah yang dekat dengan kota. Anak-anak di sana jadi mulai mengenal ponsel dan media sosial (facebook, instagram). Yah, walaupun pembelajaran tetap lebih banyak dilakukan tatap muka, setidaknya mereka semakin terbuka akan perubahan teknologi ini.

Pendidikan di Tutar

Patulang adalah tempat saya mengajar. Dusun ini terbilang berada di tengah-tengah bagian Tutar. Pernikahan dini sudah dianggap biasa. Jangan heran kalau setelah SD, mereka lebih memilih menikah daripada melanjutkan pendidikan hingga kuliah di kota.

Melalui usaha pendekatan guru dan orang tua, pendapat itu perlahan terkikis. Khususnya anak perempuan, sudah ada cahaya untuk melek pendidikan.

Secara perlahan kebutuhan akan laptop pun meningkat. Kenapa tidak komputer? Listrik di sana masih terbatas. Walau sudah masuk, kadang daya/ tegangannya rendah. Komputer jadi rentan terjadi kerusakan. Pun kalau disimpan di sekolah, tingkat kehilangan (pencurian) masih tergolong tinggi. Apalagi di masa pandemi yang notabene pembelajarannya dilakukan secara virtual.

Berbagai latar itulah yang membuat laptop bertransmisi dari barang mewah menjadi kebutuhan. Terlebih untuk mereka yang sudah memasuki jenjang SMA/SMk dan juga kuliah. Jadi, jangan heran kalau ada yang punya tetapi belum tahu secara menyeluruh cara menggunakannya.

Khusus untuk tingkatan SD, biasanya guru disediakan laptop dari sekolah. Itu pun hanya satu. Masalah kualitas dan spek jangan ditanya lagi! STANDAR bahasa anak sekarang. Operator di sana pun juga masih terbatas. Dalam satu sekolah ada satu, itu sebuah keberuntungan. Tak jarang lo, operator dipilih seadanya.

Ada pengalaman yang seringkali membuat saya geleng kepala. Ada operator yang berusia lebih dari 45 tahun. Ia kepala sekolah sekaligus operator yang memegang laptop. Apakah ia bisa mengetik di word lengkap kalau ingin membuat surat? TIDAK. Apakah ia bisa excel? TIDAK. Lalu untuk apa laptop itu? Sekadar laporan. Bila ingin dipakai harus menyewa jasa orang luar. Yah, miris sekaligus memprihatinkan.

Pernah suatu kali, saya mempertanyakan mengenai pengadaan ini ke sekolah. Sayangnya ditolak, karena tidak semua pendidik di sekolah menyetujui akan hal ini. Selain merepotkan, uang adalah masalah sensitif. Guru memiliki gaji terbatas, bergantung dari jabatan dan posisi. PNS tentu lebih besar daripada yang honorer ataupun sukarelawan.

Selalu Optimis dan Dinamis Gara-gara Ingin Maju

Sebagai sukarelawan dari salah satu lembaga sosial, berada di sana dengan segudang tantangan kadang membuat jengah. Ada rasa untuk menyerah. Namun, melihat cahaya antusias dari mata mereka membuat saya kembali terjaga. Ada hal yang harus dilakukan. Masih ada sesuatu yang harus diperjuangkan.

Sumber: dokumentasi pribadi

Berbekal laptop, saya dapat merencanakan pembelajaran yang lebih baik. Selain mempermudah mencari referensi, proses, penilaian, panduan dan juga dokumentasi jadi lebih tertata dan terarah. Ini tentu menjadi hal baru bagi mereka. Tidak perlu bergantung tempat, pembelajaran dapat berjalan sebagaimana mestinya. Bukankah mereka juga layak mendapatkan pendidikan terbaik?

Menularkan pikiran dinamis memang tak mudah. Orang di sana masih ada yang berpikiran tradisional. Mengapa menempuh pendidikan jika perempuan nyatanya harus terjun ke dapur dan ladang lagi? Sekolah itu mahal!

Satu lebih baik daripada tak ada. Namun, alangkah lebih baik kalau ada tambahan personel laptop demi kemajuan pendidikan di sana. Padahal di sana ada guru muda yang sejatinya juga butuh sokongan teknologi.

Mengubah Mindset Tentang Laptop Itu Sendiri

Siapa pun sebenarnya bisa mengoperasikan laptop jika mau belajar dan konsisten. Bukankah kita bisa karena terbiasa? Inilah hal yang perlu didobrak, apalagi untuk guru muda.

Pun untuk mereka yang telah memasuki masa dewasa tua, perlu didekati dan diberi pelatihan yang memadai. Dalam setahun kemarin, pelatihan yang ada tentang teknologi sekiranya ada 2-3 kali dalam setahun. Fasilitas ini perlu dilakukan untuk lebih mengupgrade ilmu sekaligus meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Jalan lain yang bisa ditempuh tentu saja melakukan training pada pengajar muda, entah honorer atau tenaga sukarela. Setidaknya, kalau mereka masih bingung cara membuat laporan di laptop, masih ada kemampuan untuk membuka video, menyimpan file, memindahkan dokumentasi dari ponsel ke laptop atau sebaliknya.

Memberikan Tontonan Mendidik

Pelecehan seksualitas di kalangan siswa bisa dikatakan memprihatinkan. Contoh paling sederhana melalui verbal. Coli ataukah ngewe menjadi bahasa yang dianggap biasa. Terutama anak laki-laki kelas empat ke atas.

Selain karena tontonan, lingkungan juga menjadi racun yang tak dapat dikesampingkan. Walau dalam pendidikan pemahaman mereka bisa dikatakan di bawah, cara meniru mereka sangat mengagumkan. Apalagi kalau meniru cara berpacaran.

TV menjadi Hiburan mereka selain bermain di hutan. Itu pun terbatas saluran dan listrik. Untuk itulah, mereka mencari hiburan lain yang lebih menantang, ponsel. Kadang ponsel mereka malah jauh lebih canggih daripada milik saya.

Kok bisa? Iya, mereka menggunakan ponsel itu ketika ke kota. Di lain waktu, kalau liburan, mereka memilih naik bukit untuk sekadar mencari sinyal.

Dari kebutuhan inilah, adanya bisnis haram yang dimaklumkan. Biasanya ada yang menjual memori atau flashdisk dengan segudang video mesum dengan harga sekitar 50 ribuan.

Salah satu hal sederhana yang dapat dilakukan tentu saja nobar film pendidikan seperti Laskar Pelangi ataukah yang sesuai dengan perkembangan mereka. Memperlihatkan belahan bumi lain, melakukan VC dengan teman lain di seberang pulau ataukah mengajak mereka wisata virtual ke kampus dan tempat yang diinginkan.

Setidaknya, dengan cara sederhana itu mampu membuka pemikiran mereka kalau dunia luar itu luas.

Rencana Pembelajaran Lebih Terstruktur

Selama ini, rencana pembelajaran dan juga penilaian masih manual. Padahal di sana sulit menemukan mesin fotokopi, printer dan juga alat sekolah. kecuali kalau kita turun ke kota.

Bila sudah tercetak, itu pun kadang terselip, di lain waktu hilang sekalian. Dengan menggunakan laptop, semua dapat dilakukan sekali waktu. Setidaknya, dua laptop dalam satu sekolah memberikan pondasi lebih kuat untuk bisa maju dan bersaing dengan anak beda wilayah.

Yang terpenting, anak-anak jadi lebih bersemangat mengikuti pembelajaran, baik di kelas atau outdoor.

Laptop Sebagai Alternatif Guru Pengganti

Jarak tempuh menjadi halangan untuk selalu bisa bolak-balik rumah atau sekolah. Untuk itu perlu masa baterai lama untuk membuat suasana menjadi lebih hidup dan menarik.

Laptop juga bisa menjadi guru pengganti. Jangan heran kalau laptop bisa menggantikan guru. Di sekolah, saya sudah terbiasa mengisi 3-4 kelas sekaligus. Untuk bisa membagi waktu, laptop menjadi daya tarik tersendiri untuk membuat mereka tetap betah di kelas.

Kegiatan ini kadang ditunggu karena mereka melihat video dengan alat peraga berdasar materi. Seperti tentang pernafasan, bagaimana sistem pencernaan tubuh bekerja atau bagaimana bumi itu berputar. Semua ada. So, tak ada kekhawatiran lagi kalau nonton film yang durasinya berjam-jam hingga habis. Tak perlu takut juga laptop mudah rusak dan file kita rusak.

Akses Mudah dan Portable

Dari permasalahan inilah, kadang saya melakukan pembelajaran privat ataukah berkelompok secara bergantian di ladang. Istilahnya menjemput bola agar pendidikan tetap berjalan.

Ini juga sebagai upaya untuk menghormati pilihan orang tua mereka. Anak, sekecil apa pun adalah penambah tenaga untuk bisa menyelesaikan panen. Jadi, sebelum adanya pembelaran yang lebih terarah dan terpadu, anak libur selama sebulanan karena panen bukan suatu masalah.

Ketika saya meminta mereka tetap belajar, apakah anaknya mau? Tentu saja. Semangat belajar mereka sangat tinggi. Fisik yang telah ditempa alam membuat mereka lebih kuat dan tangkas dalam menghadapi medan.

Panen selesai, pembelajaran tetap berjalan. Nah, bila semua sukses. Akan ada barter sebagai imbalan. Biasanya berupa makan-makan plus  melihat laptop dengan film pilihan mereka.

Dokumentasi nan Informatif

Saat ini media sosial layaknya rumah kedua bagi sebagian orang. Pagi, siang dan sore kehidupan tak lepas dari scroll gambar, video atau info seseorang dan berita.

Kesempatan inilah yang dimanfaatkan untuk lebih mengenalkan Tutar. Budayanya, pendidikan di sana ataupun kehidupan masyarakatnya. Nah, untuk lebih memudahkan akses, perlu pintasan program yang bekerja dengan cepat dan canggih.

ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)

ASUS tidak hanya sekadar memberikan pengalaman penggunaan terbaik lewat performa komputasi andal serta desain premium yang nyaman. Tidak hanya itu, Zenbook 14X OLED terbaru juga hadir dengan fitur-fitur yang dapat memudahkan, meningkatkan produktivitas, sekaligus menjaga kesehatan Anda.

(Jimmy Lin, ASUS Regional Director, Southeast Asia)

Perkembangan laptop bisa dikatakan dapat terjadi di setiap bulan ataupun tahun. Namun, daya beli masyarakat khususnya menengah ke bawah sangat terbatas. Perlu alasan tepat untuk bisa menyesuaikan spek yang dibutuhkan.

Namanya harga berbanding dengan kualitas, Asus Zenbook 14X OLED (UX5400) dibandrol dengan harga 20 jutaan, tepatnya 23 jutaan. Yah, dengan melihat spek dan kualitas tentu hal ini menjadi pilihan tepat dalam menunjang aktivitas yang saya lakukan. So, harga segitu tidak worth it lah!

Lebih Betah Gara-gara Tampilan

Dengan layar super canggih, daripada series lain, Asus Zenbook 14X OLED (UX5400) terlihat tebih asri dan rapi. Bazzel di bawah kaca layarnya lebih tipis dan layar lebih luas, 13-inci terasa 14 jadinya. Lebih tepatnya, ukuran menyerupai 13-inci padahal 14.

Sumber: ASUS

View pun lebih luas dan bisa dibuka 180 derajat. Tidak perlu khawatir patah dan retak. Jadi seperti kaca jadinya.

Tidak hanya itu, laptop dengan pilihan dua pilihan warna (Lilac Mist, Pine Grey) ini juga menawarkan kalibrasi warna yang akurat dan sedap dipandang.

Sebagai laptop yang ramah pada penggunanya, bobot 1,4 kg membuat pundak dan tangan terasa lebih nyaman. Apalagi kalau dibawa naik turun bukit/ gunung dan jalan kaki. Ketebalan bodinya pun tak mengecewakan, hanya 16,9 mm.

Lebih tipis dari kamus kan?

Selain memanjakan badan, mata pun juga dijaga. Layar  Asus Zenbook 14X OLED (UX5400) memiliki screen-to-body ratio hingga 92%. Hal ini mencegah mata menjadi cepat lelah.

Sudah yakin dengan kualitas premiumnya? Atau masih bingung?

Janganlah ya! Kita kuliti satu persatu tentang Asus Zenbook 14X OLED

Produktif Lebih Lepas Gara-gara Bandel

Zenbook 14X OLED (UX5400)  dirancang untuk pekerja aktif dan kreatif. Pecinta konten dan video youtube pun bisa menggunakannya. Bahkan, dari bentuk bodi yang ringkas dan ringan sudah terlihat jelas bahwa laptop ini mampu bertahan di outdoor.

Nah, pertimbangan lain yang membuat say perlu menggunakannya karena laptop ini telah lulus sertifikasi uji ketahanan berstandar US Military Grade (MIL-STD 810H). Di antaranya: tes jatuh, tes getaran, hingga tes operasional pada lingkungan ekstrem.

Tidak tanggung-tanggung, laptop modern ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) sudah diperkuat oleh prosesor Intel® Core™ generasi ke-11 terbaru dan juga Intel® Iris® Xᵉ graphics.

RAM pun cukup besar 16 GB dan penyimpanannya PCleSSD dengan kapasitas ekstra lapang hingga 1 TB. Semua ini sudah mendukung untuk menyimpan fitur yang membuat hasil foto dan video jadi optimal layaknya profesional.

Mudah terhubung Gara-gara Konektivitas Lengkap

Sumber: ASUS

Dalam menghemat waktu, konektivitas dengan perangkat lain sangat dibutuhkan. Zenbook 14X OLED (UX5400) memiliki opsi konektivitas lengkap, mulai dari dua port USB Type-C Thunderbolt 4, HDMI 2.0, USB 3.2 Gen2 Type-A, hingga microSD dan 3,5mm combo audio jack.

Yang tak kalah penting, konektivitas nirkabel sudah mendukung WiFi 6. Internet jadi lebih bebas dan menjanjikan. Nah, agar performa tetap terjaga, online pun bisa sepuasnya, Asus membenamkan baterai berkapasitas 63Whr. Kemampuan fast charging-nya pun menakjubkan,  50 % dalam 30 menit.

Tak perlu khawatir batasan daya kan?

Lebih Semangat Berkat ScreenPad™ 2.0

ScreenPad™ 2.0 termasuk inovasi baru. Di dalamnya terdapat fitur yang menggugah rasa penasaran. Dari cursor sidik jari kita bisa mengoptimalkan penggunaan laptop “dua layar” ini.

Fitur Quick Key membantu mengakses berbagai shortcut secara lebih cepat. Selain itu, ada fitur untuk menampilkan antarmuka tambahan di berbagai aplikasi utama Microsoft Office. Sekalian kerjanya gitu lo!

Sebagai layar kedua, ScreenPad™ 2.0 dapat menampilkan aplikasi secara bebas. Melalui fitur App Switch, berbagai aplikasi dapat ditampilkan dari layar utama ke ScreenPad™ 2.0. So, yakinlah! Saat multitasking, kesulitan dan keribetan sudah insecure dan memelipir duluan.

Sayangi Fitur Tambahan di Zenbook 14X OLED (UX5400)

Zenbook 14X OLED (UX5400) enak dipakai, khususnya dalam pengeditan. Dari Adove Creative Cloud bisa dicoba tiga bulan secara gratis. Ngeditnya juga tidak berat apalagi sampai mendengar rintihan kipasnya. Nah, semakin cocok untuk lebih update skill dan unjuk gigi kan?

Keunggulan lainnya dari laptop ini, ada single person converence call. Jadi, kalau kita membuat video call, hasilnya lebih jernih apalgi kalau dilakukan di luar. Suara di lingkungan tidak menjadi gangguan. Ini sangat bermanfaat kalau harus melakukan pelaporan bulanan. Video call oke, tanpa harus meninggalkan pembelajaran siswa.

Bila berniat memiliki ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400), silakan cari di gerai resmi ASUS.

Bersama ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400), Aku Melangkah

Masa pengabdian bisa saja terhenti, tetapi perjuangan akan selalu ada. Pun kalau saya sudah tidak berada di sana, setidaknya ada sesuatu yang bisa saya tinggalkan dan membekas di sana.

Sumber: ASUS

ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) semakin mendekatkan impian saya ke dunia nyata. Bersamanya ada kesempatan anak-anak Tutar khususnya Patulang untuk mengenal beasiswa, melihat dunia luar seperti Jakarta secara virtual pun melihat kereta atau pesawat yang sejatinya hanya bisa dilihat di ponsel ataupun TV.

Apiida Sokoomah

Setidaknya, biarkan dunia mereka lebih berwarna. Tak lagi hanya seputar dapur, sekolah dan ladang. Berawal dari hal sederhana, kita bangun mimpi di tengah kerasnya hidup di wilayah Tutar.

Pun untuk pengajar di sana, pengalaman bersentuhan dengan teknologi menjadi pengalaman berharga. ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) tentunya menjadi tawaran menarik dan menjanjikan agar mereka lebih semangat menggunakan laptop secara tepat sebagaimana mestinya.

Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) Writing Competition bersama bairuindra.com,

Related Posts

15 thoughts on “Mengajar di Pedalaman Tutar Lebih Terencana dengan ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)

  1. baca ini jadi ingats aya dulu mengajar di pedalaman Kalimantan seru banget ya mba, wah Asus, laptop impian saya yang super slim dan ringan, pernah lihat punya teman, enak banget bisa dibawa kemana-mana karena ringand an tipis, semoga bulan depan saya sudah bsia beli laptop ini, aamiin

  2. Memang ketimpangan fasilitas pendidikan di kota dan di pelosok cukup jauh ya Mbak. Saya selalu salut dengan orang yang mau menyediakan waktunya untuk kegiatan pendidikan di lokasi-lokasi tak terjangkau. Mungkin mereka melihat laptop pun sangat antusias ya. Btw, Asus ini konektivitasnya lengkap sekali ya ternyata.

  3. Banyaknya pengalaman yang bisa diperoleh ketika mengajar di pedalaman seperti ini.
    Dari mulai kebiasaan dan contoh yang baik harus diberikan. Namun terlebih dari itu, memang penyediaan materi bahan ajar bisa lancar untuk anak-anak, memerluka bantuan laptop yang memadai, seperti ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400).

    Salut atas dedikasi dan kesungguhan tenaga pengajar di daerah pedalaman.
    Dulu aku inget banget ada program “Indonesia Mengajar” yang membuka kesempatan seluas-luasnya untuk para fresh graduate untuk mengikuti program ini.

  4. Saya kira di Cianjur sarana dan prasarana tidak layak bikin Masyarakat tidak enak. Ternyata di daerah lain masih ada juga ya.
    Semoga beruntung ya Mbak lombanya

  5. Saya pernah dulu ..berwisata ke salah satu sudut di pedalaman Sulawesi. Tempat wisatanya indah. Bule bule datang. Tapi ya itu, pendidikan anak anaknya kurang. Semoga ke depannya pejabat yang berwenang lebih aware dengan pendidikan anak anak pedalaman. Miris ketika membaca flash disk isi video mesum seharga 50k diakses pula oleh anak kecil😭

  6. Kadang miris kalau dengar cerita semacam ini. Daerah pedalaman, honor guru tak memadai, akomodasi juga. Belum lagi di era digital seperti ini, akses terhadap internet dan teknologi terbatas. Semoga pemerintah dan organisasi swasta yang bergerak di bidang pendidikan bisa menjangkau daerah-daerah yang masih membutuhkan ya.

  7. MasyaAllah semoga guru2 di pedalaman juga punya akses dan juga kesempatan untuk berkembang yang sama dengan daerah lainnya ya mbaa, miris juga denger cerita guru2 di pedalaman gitu

  8. Saya baru dengar nih daerah tutar ini. Kadang suka sedih ya melihat kesenjangan pendidikan di negeri ini. Karena itu saya salut banget sama pengajar yang bersedia turun ke Pedalaman

  9. Asus memang paling oke buat diajak bekerja di daerah yang lumayan anti mainstream, ketahanannya itu lho yang bikin aku suka banget dengan apapun jenis laptop asus. Tetap semangat mbak meskipun tempat mengajarkan jauh dari fasilitas yang wah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *