Menyelaraskan Misi Pribadi dan Keluarga dengan Piramida Ibu Profesional

Setelah sebelumnya menyelami diri, kini penjelajah Institut Ibu Profesional (IIP) beralih untuk menganalisa piramida. Bukan asal piramida lo, tetapi piramida Ibu Profesional (IP).

Sejarah lahirnya piramida ini unik. Berdasar kepedulian seorang suami sekaligus ayah, Pak Dodik mencetuskan piramida ini tahun 2008. Nah, sebagai bahan peningkatan kualitas istri sekaligus ibu, Bu Septi selaku pelopor IP menjawab tantangan itu di tahun 2011. Butuh sekitar 3 tahun.

Nah, sekiranya bisa ndak ya kalau saya memaknai piramida ini versi saya selama misi 7 ,sekitar 5 hari?

Misi Manusia dan Piramida IP

Piramida adalah perwujudan misi kita diciptakan. Misi itu berkaitan dengan memuliakan akhlak. Bukan sempurna, tetapi menjadi lebih baik. Misi inilah yang nantinya menjadi titik pertemuan antara piramida atas dengan bawah.

Piramida atas ibaratnya (in) segala proses yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Mulai dari percaya diri mengelola keluarga, mampu mendidik dan mengembangkan anak serta terus mengembangkan diri. Jika semua itu tercapai, sudah selayaknya kita menyebarluaskan ke orang lain atau lingkungan.

Piramida bawah sebagai (out),apa yang kita perlihatkan dan berikan kepada orang lain. Ibaratnya, ini bentuk dari segala proses atau hasil dari aksi yang kita lakukan. Diawali dengan membangun jaringan kemandirian perempuan, revitalisasi makna ibu, pendidikan dan pelatihan IP hingga pengembangan sarana IP.

Keterkaitan piramida dan IIP

Sebagai komunitas, IP membutuhkan tempat untuk menggembleng calon peserta yang menjadi bagian di dalamnya untuk menyatukan visi dan misi. Inilah kenapa IIP dibentuk. Layaknya dalam jenjang pendidikan normal, IIP membekali mahasiswanya ilmu. Pun di dalamnya juga terdapat berbagai tingkatan sesuai kebutuhan.

Jika diibaratkan sebuah Pulau, inilah gambarannya!

Materi IIP Matrikulasi Angkatan 10

Bunda Sayang

Keunikan IIP mulai terlihat dari setiap jenjangnya. Dengan meggunakan gamifikasi, kita diturukan sejenak di Pulau Cahaya. Di tempat inilah nantinya kita akan diberi bekal untuk lebih dekat pada anak.

Di Pulau Cahaya ada berbagai wilayah aktif yang dijaga oleh Malika. Sebagai bantuan, ada juga Manika sebagai guardian.

Berdasarkan pemaparan dari tamu di program Tracit Knowlegde IP Yogyakarta, Mbak Eka Puspa dan Dewi Suryandari (Mbak Ayiek) ada 7 zona di Bunda Sayang. Di mana disediakan waktu 12 hari untuk menyelesaikan tantangan.

Misi yang diberikan pun beragam, bahkan di setiap zona, jumlah misi ini tak bisa ditebak. Seperti di Zona 1, ada 4 misi yang harus diselesaikan. Berbanding jauh dengan misi 7 yang hanya tersedia 1 misi.

Menyontek ah, daripengalaman angkatan sebelumnya, tidak bisa Ferguso. Inilah keunikan IIP.disetiap angkatan selalu ada inovasi baru dalam setiapkurikulumnya.tidakada yang samapersis apalagimengulang.

Nah, jika tertarik, kita harus menjelajah 5 zona lengkap dengan 5 refleksi.

Untuk angatan di tahun 2022 ini ada 7 Zona yang layak untuk dijelajah, diantaranya:

  1. Zona Manajemen Gadget
  2. Zona Manajmen Emosi
  3. Komunikasi Produktif
  4. Kita Semua adalah Bintang
  5. Ketrampilan literasi
  6. Fitrah seksualitas
  7. Family Project

Pun untuk pondoknya ada yang single,menikah tapi belum punya anak, punya anak 0-6 tahun, dan terakhir ibu dan anak di atas 6 tahun.

Dari kurikulum yang ada inilah bekal kita untuk memperkuat kapasitas diri sebagai seorang ibu.

Bunda Cekatan

Hutan Kupu-kupu menjadi arena penjelajah untuk menggali potensi diri. Berdasar penjelasan dari tamu di kelompok HIMA Yogyakarta, Mbak Elwa Awalina dan Henny Puji, di sini kita akan bertemu dengan Magika. Waktu yang dibutuhkan pun takkurang dari 7 bulan.

Semua dimulai yang aku suka dan aku bisa. Prinsip ini mengawali keteguhan hati kita mengikuti program di Bunda Cekatan. Kalau tak ska, akan terasa berat dan membebani. Berbeda kalau sebaiknya,il   mu akan tercerna dengan lebih mudah karena kita menikmatinya.

Di dalamHutanKupu-kupu, kita  diarahkan untuk menjadi kupu-kupu dan menikmati keindahan hutan. Kurikulumnya pun mengajarkan kita untuk berproses  seperti kupu-kupu.

Dimulai dari tahapan menjadi telur-telur, kita ditantang untuk mampu mengenali diri. Memperdalamkekuatan dan mengatasikelemahan. Setelahnya, kita berkembang menjadi ulat. Pernah terbayang bagaimana rakusnya ulat dalam menikmati dedaunan?

Itulah yang diinginkan. Lebih tepatnya kita dilatih untuk memilah dn memilih ilmu yang tepat kemudian melahapnyasedikit demi sedikit. Kalau bisa, cariilmu-praktik, cari ilmu-praktik. Biar kita tidak menjadi ulat gendut. Selalu lapar ilmu, tapi tidak eneg ketika makan. Dalam tahap ini, kita harus berani berkata cukup. Tidak lapar, dan juga tidak kekenyangan.

Keaktifan selama menjadiulat diendapkan dalam bentuk kepompong. Jika sebelumnya, bekalilmumelimpah,praktik yang dilakukan pun harus selaras.

Nah, kalau sudah mempunyai bekal saatnya kupu-kupu muda terbang dan menikmati dunia sembari menebarkan manfaat dengan membuat program mentor dan mentee. Istilahnya melakukan pembinaan padaorang lain.

Bunda Produktif

Tujuan adanya program ini untuk melatih ibu berperan aktif dalam dunia nyata versi mini. Tidak hanya mengembangkan passion, tetapi lebih kepada menguatkan praktik. Jadi, kita dibuatkan sebuah Kota Produktif.

Nah, ada istilah unik, tetangga. Sebutan teman kelompok yang memiliki passion sama atau yang mirip. Kompleks perumahannya pun lengkap dengan nama Co-House. Tetangga inilah yang nantinya menjadia partner kelompok. Pun orang yang membantu dalam proyek individu.

DariBunda Produktif aku belajar menerimadan sabar. Kadang apa yang kita hadapi tak berjalan sesuai keinginan. Namun, yakinlah bahwa ada hikmah yang dapat diambil dari perjalanan itu.

Firda Rosiana, tamu Tracit knowledge dari IP Yogyakarta.

Nah, ada tips dari Mbak Dwi Retno Utama biar tidakkelimpungan menyusun Kota Produktif:

  1. Berusaha bahagia, keaktifan di sini sangat diutamakan bila tak bahagia akan terseok-seok di tengah jalan.
  2. Tetap menjalankan peran utama di rumah.
  3. Berbagi peran dengan suami.
  4. Konsisten dan saling menguatkan hingga akhir.

Bunda Saleha

Berbeda dari program sebelumnya, kita dilatih untukmendekati masalah dalam mencari solusi. Tujuan utamanya memberi manfaat pada orang lain sekaligus penyaluran ilmu dari apa yang didapat di IP. Halinipun selaras dengan apa yang disampaikan oleh Mbak Retno Palupi dan Mbak Kasihani (Bune Yani)dari IP Jogja. Jadi, selama 6 bulan, setiap mahasiswa dituntun untuk membuat gerakan dan tim sesuai tantangan.

Pilihan menjadi ibu bukan sekadar menerima tetapi juga sebagai suatau kebahagiaan.

Kristalisasi Misi

Dari Core Value dan karakter Ibu Profesional misi saya lebih terarah. Tak ada kebingungan mengenai langkah untuk mewujudkan tantangan sekaligus misi yang sebelumnya direncanakan.

Misi Diri

Benang merah misi diri dengan misi IP (Misi bersama)

Berdasar nila yang dijunjung IP saya pun menyesuaikan diri agar nantinya tidak menyesal di kemudianhari. Salah satunya dengan mengambilperan yang adadan mengikutikegiatanyang diselenggarakan oleh IP. Pun dari ini saya harap semuanya dapat berjalan lebih terarah.

Misi IP

Peta Misiku dalam iP

Misiku adalah menjadi istri dan ibu yang pantas sesuai peran. Bekal yang saya punya keinginan kuat sekaligus komitmen untuk menyelesaikan misi sekaligus mempraktikkannya. Dari luar saya juga membawa restu dari keluarga terutama suami. Ini semain memudahkan diri untuk tetap aktif dan berdaya dengan kemampuan yang ada.

Apa kabar misi? InsyaAllah selalu berkembang dan berproses. Tidak istimewa tetapi selalu bergerak. Saya temukan apa yang berjalan sesuai rencana dan harus diperbaiki, salah satunya untuk selalu berperan aktif.

Yang pasti, secara perlahan saya mulai menikmati kegiatan di IP.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.