Penjahat Kelamin Berkedok Pacaran

“Perempuan murahan di Indonesia itu sangat banyak. Apalagi anak muda zaman sekarang. Entah di mana otak mereka!” Itulah statement akhir dari salah seorang sobat Sokoomah dalam sebuah diskusi.

Semula, kami berdiskusi mengenai pendidikan seks pada anak. Namun, pembahasan berkembang setelah salah satu dari kami menyinggung video viral di tik tok tentang pesta seks yang berada di Bali. Tak berhenti di sana, semuanya berkembang hingga pemasalahan pribadi pun mulai terkuak.

Ia bukan tanpa sebab mengatakannya. Sebagai seorang ibu, ia telah kehilangan sebagian hidup dari putrinya. Ya, putri yang selama ini dijaga dan dianggap baik-baik saja,telah dinodai oleh sang pacar. Puncaknya, baj***an itu lepas tangan dan kabur, walau tahu putrinya depresi dan hampir kehilangan nyawa.

Butuh waktu beberapa tahun untuk memulihkan keceriaan sang putri. Pun dengan semangat hidupnya. Keluarganya belum genap berjuang, desas-desus tetangga semakin menggila. Yang paling parah, sang mantan anaknya dulu mengancam akan membagikan video syur hubungan mereka.

Bisa dibayangkan bagaimana pusingnya dia?

Inilah salah satu potret memillukan kehidupan remaja kita. Ibu tesebut tidak sendirian, ada banyak orang tua lain memiliki kesukaran yang sama. Bahkan mungkin lebih, hingga mereka kehilangan anak yang disayang selamanya tanpa mendapat keadilan.

Dalam suatu hubungan, lelaki dan perempuan melakukannya secara bersamaan. Tanggung jawab dipikul bersama. Katanya! Nyatanya, perempuan lebih banyak disalahkan ketika hal yang tidak diinginkan terjadi! Keganjenan, murahan, dan sindiran lainnya terlontar begitu saja.

Sangat disayangkan!

Miris, sedih sekaligus khawatir tumbuh bersamaan. Sedih karena terbayang bagaimana kesehatan perempuan ini sekaligus keluarganya. Pun hubungan mereka dengan lingkungandan masa depan mereka. Saat semuanya dicerminkan ke anak sendiri, kekhawatiran mendominasi.

Apa yang haus saya lakukan sebagai orang tua?

Bagaimana kalau anak saya terpengaruh akan hal itu? Walaupun ia seoang laki-laki, saya harap bocil ini kelak dapat menghomati kaum perempuan, di mana pun dan kapan pun. Nah, untuk membentengi anak agar tak bablas dalam berpacaran yang toxic, bisa dipakai cara berikut:

  • Niat

Pacaran terbentuk dari berbagai niatan. Ada yang ingin diperhatikan, tak jarang pula ingin bersenang-senang. Namun, tak jarang pula yang beralasan untuk menyemangati diri.

Kalau dipikiran saya, apa tidak kebalik? Justru pacaran memunculkan masalah baru? Yang semula kita focus ke diri sendiri, kini harus memikirkan orang lain juga.

Niat inilah awal segalanya, kalau niatan di awal untuk serius dan mencari pasangan, setidaknya bisa dikomunikasikan. Kalau bermain-main? Sebaiknya mundur saja. Kasihan anak orang dibuat mainan!

Pun kalau masih lama untuk menikah, sebaiknya ditunda dulu pacarannya. Siapa tahu nafsunya mendekat dari segala sisi. Alihkan kegiatan dengan berkumpul bersama teman, saudara ataukah orang tua. Kalau Islam, ya berpuasalah.

Cara lain yang bisa digunakan, fokuslah memikirkan cita-cita sebelum menjalin asmara. Ketika impian di tangan, berhenti sejenak untuk memikirkan hubungan asmara. Setelahnya, focus berdua untuk mewujudkan impian bersama.

  • Mencari alternatif kegiatan bersama

Ini yang susah, tekadang kegiatan bersama ini ditujukan untuk berduaan. Padahal sejatinya kegiatan yang dimaksud tidak hanya bermesraan, tetapi lebih kepada pengalaman dan pengetahuan baru.

Misal, Cia tidak pernah keluar lama karena ia seorang workhollic. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar dan bekerja. Di saat memiliki pasangan yang seorang pendaki, ia lebih banyak bergaul. Tentunya yang ke arah positif.

  • Saling menghormati

Ada yang bilang, kalau kalian sayang pada mawar, rawatlah ia hingga berbunga. Kalau mau memanen tunggu waktu yang tepat, di waktu subuh. Pun kalau menjual harus ada waktu karena masa mekarnya terbatas.

Semuanya mirip dengan pacaran. Dalam dunia perempuan, usia 15-24 tahun merupakan masa mekar dalam masapencarian dan penantian kumbang untuk mengambil sari madunya. Namun, sayangnya ini menjadi polemik tersendiri. Apalagi kalau ada perkataan:

“Mana bukti cintamu?”

Disinilah kesalahan awal, seks telah berubah maknanya. Semula yang sakral demi memperoleh keturunan yang solih, telah menjadi ajang untuk saling memuaskan nafsu.

  • Say good bye to toxic

Sebelum berubah,kita perlu mengkaji ulang apakah diri kita termasuk toxic atau bukan. Beberapa hal yang dapat dilakukan:

  • Apakah keberadaan kita disenangi ataukah justru sebaliknya?
  • Kita sering marah?
  • Apakah kata maaf sulit keluar dari mulut?
  • Bagaimanakah sikap kita jika ada teman yang mendapat pujian atau prestasi?
  • Apakah kita suka begosip dan membiarakan oang lain?

Bila iri di atas terdapat dalam diri, perlu ada tindak lanjut ya.

  • Mencari perlindungan Allah

Inilah yang sering terlupakan. Sepele, tetapi sangat berpengaruh. Bagaimanapun Allah adalah sang pemilik hati. Betapapun keras dan tingginya keinginan remaja untuk behubungan dengan lawan jenis, kalau Allah berkehendak menyelamatkannya, ia tetap akan selamat. Pun sebaliknya.

Terus berdoa dan meminta perlindungan-Nya ya?

Yah, beberapa hal di atas setidaknya memberi gambaan kita betapa gawat situasi sekarang. Keamanan dipertaruhkan dan kehormatan tak lebih mahal dari harga pakaian jika kita tak menjaganya.

Self care ya, semoga pandemi memberikan jalan terbaik dan memberi kesempatan siapa pun untuk bertaubat.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *