Pentingnya Bahasa Tubuh untuk Mendukung Pasangan

Trigger

Suami sudah merasakan nyeri sejak beberapa hari belakangan. Lebih tepatnya, sejak minggu kedua bulan Ramadan. Ia selalu mengeluhkan perutnya melilit (nyeri) hingga tembus ke bagian pinggang. Diperiksakan ke dokter umum, awalnya diagnosa ginjal yang kena. Diminta banyak minum air putih. Saat itu hanya diberikan obat jalan dan Alhamdulillah rasa sakit berkurang.

Rasa sakit kambuh kembali seminggu setelah lebaran. Ia yang biasanya bisa menahan kini terpaksa ke UGD sendirian. Yah, mau bagaimana lagi. Ia sendirian di kos sedangkan saya dan bocil berada nan jauh di luar kota.

Beruntung saat itu rasa sakitnya mereda dan ia diperbolehkan untuk pulang ke kos. Tanpa menunggu waktu, suami memaksakan diri pulang ke rumah. Walau tak mudah sembari menahan nyeri, ia berhasil menyetir mobil hingga rumah.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya sebagai istri. Sudah jauh dan merasa tak bisa berbuat apa pun selain berdoa. Pikiran juga tak keruan. Setiap menit, wa tak pernah henti dari ketikan pertanyaan sama. Masih kuat? Sampai mana? Walau tak ada jawaban, saya tak bisa berhenti melakukannya.

Perjuangan kami tak berhenti sampai di sana. Harus ada serangkaian pemeriksaan untuk tahu apa penyebab nyeri yang tak kunjung mereda itu. Diawali pemeriksaan dokter penyakit dalam, pemeriksaan USG dilanjut konsultasi ke urologi hingga CT Scan, barulah hari ini semua terlihat jelas. Ada batu ginjal yang harus dikeluarkan melalui tindakan operasi.

 Melihat suami yang sudah lemas dan pesimis sejak awal membuat saya harus menguatkan diri. Ada kata yang tak bisa diucapkan, ada perasaan yang ingin disimpan, pun ada kesedihan yang rasanya ingin dipendam.

Bagaimana saya bisa terlihat lemah, jika suami dalam kondisi down. Dalam diam, kami hanya lebih sering berpelukan.

Eye Contact, Salah Satu Cara Saya Menyampaikan Cinta Sekaligus Dukungan

Berada di kondisi kritis (dalam artian emosi down), kami sebagai pasangan membutuhkan waktu untuk menata hati. Khususnya saya. Biasanya, suami yang lebih banyak bisa mengungkapkan kata, kasih dan dukungan. Kali ini saya harus mengambil peran itu.

Sekarang, saya bingung harus bagaimana memulainya. Bahasa tubuh menjadi jalan ninja yang perlahan saya latih. Saya bukan orang yang pandai merangkai kata apalagi menghibur. Mulut yang biasa berkata ceplas ceplos ini lebih sering berkata dengan nada tegas (ada yang menyebutnya kasar).

Yah, untuk itulah saya mulai belajar memainkan mata. Dimulai dengan membiasakan eye contact ketika bicara . Setiap kali suami mengajak bicara saya biasakan untuk selalu menatapnya sembari diiringi ungkapan syukur.

“Ibu jadi tambah perhatian.”

“Kan sayang,” ungkap saya tanpa malu lagi.

Pun kalau melakukan sesuatu saya biasakan untuk sekadar berpegangan tangan, mengelus punggung ataukah memberi kecupan. Bukan lebay yang sampai menggelendot manja, saya melakukannya sehalus mungkin tapi tak terkesan menjemukan.

Yah, walau suami memang bisa dibilang salah. Sejak awal pola hidup yang lebih banyak duduk tanpa diimbangi aktivitas memadai/ olahraga dan  kebiasaan minum minuman kemasan sudah menjadi tabiatnya beberapa tahun belakangan. Dalam posisi seperti ini, mau bicara banyak pun sepertinya kurang layak. Tidak enak karena bisa menambah pikiran suami.

Diingatkan menyepelekan, tidak diingatkan katanya tidak perhatian. Yah mau diungkit pun tak ada gunanya. Yang ada hanyalah dukungan di balik rasa bersalahnya. Pun selalu menemani saat pengobatan atau ketika dilakukan tindakan.

Menjalin eye contact juga mengajarkan saya untuk lebih menghargai orang lain. Melalui perhatian, energi positif seakan lebih mudah terkontrol dan memberi kenyaman di antara kami. Pembahasan pun juga semakin menenangkan hati dan lebih mudah dipahami.

Eye contact juga membuat suami menjadi lebih nyaman ketika bercerita. Ia yang semula ragu dan takut mulai berani mengungkapkan perasaannya yang galau. Pembicaraan kami pun jadi lebih intens.

Melalui eye contact saya juga merasakan emosi yang suami rasakan. Pun sebaliknya. Jika sebelumnya kami terpisah jarak dan jarang berkomunikasi melalui ponsel. Kini pembicaraan itu selayaknya ritual tersendiri sebelum tidur.

Berusaha Lebih Baik Bersama

Sakit memang musibah. Namun, di sisi lain ada banyak hal yang bisa disyukuri. Di antaranya tentu saja pribadi yang lebih sensitif. Sensitif dalam hal positif ya, istilah kerennya jadi peka. Peka bagaimana perasaan orang lain yang mengalami hal serupa. Pun kita jadi lebih bersyukur terhadap apa yang dimiliki.

Saya di antaranya. Selain bertekad untuk memperbaiki pola hidup, kami juga memperbaiki hubungan dengan Allah dan dengan satu sama lain. Menjadi terbuka bukanlah halangan apalagi tabu. Keterusterangan menjadi alarm nyata untuk terus memperbaiki diri.

Dari sakit ini pula, hubungan kami terasa lebih dekat dari sebelumnya. Semua dilalui berdua. Orang tua lebih berperan sebagai penasehat dan teman berbagi keluh kesah. Tak ada prasangka apalagi sikap saling menyalahkan.

Harapan Baru Di Masa Depan

Sekarang ini, tidak ada yang lebih penting dari keutuhan keluarga. Baik dari segi kesehatan fisik, mental dan juga material. Menjadi pribadi lebih baik salah satu jalan untuk mengupgrade diri. Pun termasuk mengikuti Ibu Profesional ini.

Belajar lagi mengenai komunikasi ternyata bagaikan flashback akan kehidupan yang sudah ada. Bagai diputar satu per satu, saya dihadapkan pada fenomena yang selama ini saya jalani. Ada yang sudah benar di jalannya, ada yang berbelok, berada di persimpangan, pun ada juga yang buntu bahkan menimbulkan kecelakaan.

Kondisi saat ini, saya berada di persimpangan jalan dan saya memilih melaluinya bersama suami secara perlahan. Kami kadang berdiam sejenak untuk memikirkan langkah yang sudah dilalui ataukah yang akan kami lalui. Kami juga menyempatkan diri untuk sekadar memeriksa perbekalan (ilmu).

Beruntung kami memiliki visi sama demi kemajuan keluarga. Komunikasi menjadi salah satu amunisi yang selalu tak terlewatkan untuk dipakai. Semoga esok kami menjadi lebih terarah dan lebih baik ke depannya.

Cepat sembuh suami, insyaAllah pertolongan Allah akan selalu ada.

#tantanganzona2

#harike-3

#bundasayang8

#institutibuprofesional

#ibuprofesionaluntukindonesia

#bersinergijadiinspirasi

#ip4id2023

Related Posts

212 thoughts on “Pentingnya Bahasa Tubuh untuk Mendukung Pasangan

  1. Magnificent beat I would like to apprentice while you amend your site how can i subscribe for a blog web site The account helped me a acceptable deal I had been a little bit acquainted of this your broadcast offered bright clear idea

  2. What i do not realize is in fact how you are no longer actually much more wellfavored than you might be right now Youre very intelligent You recognize thus considerably in relation to this topic made me in my view believe it from numerous numerous angles Its like men and women are not fascinated until it is one thing to do with Lady gaga Your own stuffs excellent All the time handle it up

  3. you are truly a just right webmaster The site loading speed is incredible It kind of feels that youre doing any distinctive trick In addition The contents are masterwork you have done a great activity in this matter

  4. I just could not depart your web site prior to suggesting that I really loved the usual info an individual supply in your visitors Is gonna be back regularly to check up on new posts

  5. What i dont understood is in reality how youre now not really a lot more smartlyfavored than you might be now Youre very intelligent You understand therefore significantly in terms of this topic produced me personally believe it from a lot of numerous angles Its like women and men are not interested except it is one thing to accomplish with Woman gaga Your own stuffs outstanding Always care for it up

  6. I recently stumbled upon this super website, an oasis for fans. The owner has a real knack for producing compelling content that hits the mark every time. I’m thrilled to have found this site and can’t get enough of what they deliver.

  7. Bwer Pipes: Leading the Way in Agricultural Irrigation Technology: Revolutionize your irrigation practices with Bwer Pipes’ innovative solutions. Our cutting-edge sprinkler systems and durable pipes are engineered to withstand the harsh conditions of Iraqi agriculture, ensuring optimal water usage and crop growth. Learn More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *