Perpisahan Pertama dengan Bocil

Trigger

Selama ini, kemana pun saya pergi, bocil tak pernah ketinggalan. Dari bayi, ia sudah terbiasa digendong depan atau belakang. Pun saat ia beranjak bisa jalan, naik motor pun dilakukan bersama. Kadang dibonceng depan, pernah pula dibonceng belakang. Yang pasti, ia lebih suka di depan tanpa terhalang pandangan.

Sore ini, suami harus dirawat lagi. Sesuai perkataan dokter sewaktu kontrol, suami harus siap kapan pun ketika panggilan operasi datang. Jadilah sore itu riweh dari biasanya. Jam 14.00 saya mendapat telepon, jam 15.30 kami harus berangkat. Bocil pun terpaksa ditinggal di rumah bersama tantenya.

Sebelumnya, saya sudah memberitahukan hal ini ke bocil dan ia pun mengangguk. Layaknya memahami  apa yang kami sampaikan, ia tertawa sembari memberikan tanya tiada henti.
“Rumah sakitnya seperti apa?
“Kenapa anak kecil tak boleh ke sana?”
“Bapak sakit apa?”
Ah, dan masih banyak pertanyaan lain.

Saat perpisahan itu terjadi, jelas terlihat wajahnya yang sedih. Walau diselingi tawa, matanya yang mulai berkaca-kaca tak mampu disembunyikan.

Selepas salat Ashar, mobil dikeluarkan dari garasi. Bocil yang semula sibuk di depan laptop langsung teralihkan. Ia naik mobil dan mengganggu suami yang menyetir. Pun saat kami mrmasukkan barang-barang ke mobil dengan sigap ia mengeluarkannya lagi.

Sekali ditegur tak mempan, dua hingga tiga kali tetap tak ada perubahan. Justru ia terlihat lebih aktif dari biasanya. Pintu mobil semua dibuka, bantal suami dibawa lari. Saya pun hanya menggeleng, ah ia memang sedang ingin mencari perhatian.

Menunjukkan Empati Sebagai Ungkapan Kasih

Bocil saya peluk, walau meronta ia saya dudukkan di teras.
“Mas Hakim sedih? Maaf ya, Bapak sakit ibu harus menemani. Di rumah ada tante yang menemani. Hakim pasti berani. Ibu sayang.”

Kalimat yang sejatinya sudah saya ungkapkan sejak beberapa hari yang lalu, saya ulang dan ulangi lagi.

“Maafkan ibu ya.”

Perlahan saya masuk mobil, sedangkan bocil dipeganggi tantenya. Saat mobil berjalan, dari kaca spion ia terlihat lari mengejar. Layaknya adegan sinetron ya. Namun rasanya entahlah. Air mata tiba-tiba mengalir begitu saja.

Mengungkapkan Sayang Secara Lisan

Perpisahan baru terjadi beberapa jam, tetapi rasanya lama sekali. Di sela waktu menunggu suami saya selalu berkirim pesan dengan tantenya.
“Apa yang dilakukan bocil?”
“Apakah bocil menangis? Berapa lama?”
“Sudahkah makan? Makan apa? Disuapi atau makan sendiri?”
Ah, masih banyak pertanyaan yang terkirim dan terjawab dengan video call. Alhamdulillah ia terlihat tenang dan baik-baik saja.

Perpisahan memang berat, tetapi kalau tidak dilatih bagaimana kami bisa melaluinya. Yah, demi kemandirian bocil dan keadaan yang ada, melatih bocil sejak dini untuk mengenal arti perpisahan nyatanya memang penting.

Walau ada hati yang terluka, walau ada air mata yang menetes, bocil memang perlu melaluinya. Bocil hebat untuk hari ini, terimakasih, ibu jadi merasa kuat untuk melalui semuanya.

#tantanganzona2

#harike-12

#bundasayang8

#institutibuprofesional

#ibuprofesionaluntukindonesia

#bersinergijadiinspirasi

#ip4id2023

Related Posts

12 thoughts on “Perpisahan Pertama dengan Bocil

  1. Someone essentially lend a hand to make critically posts I’d state. That is the very first time I frequented your web page and thus far? I amazed with the research you made to make this particular submit amazing. Fantastic task!

  2. Makasih banyak buat infonya yang bermanfaat! Saya suka banget cari berita di sini, selalu update dan lengkap. Eh, btw, coba deh pake V.af buat pendekin link. Gampang banget, bisa bikin tautan jadi lebih simpel. Aku udah coba, keren loh! 😊👍

  3. Thank you I have just been searching for information approximately this topic for a while and yours is the best I have found out so far However what in regards to the bottom line Are you certain concerning the supply

  4. I simply could not go away your web site prior to suggesting that I really enjoyed the standard info a person supply on your guests Is going to be back incessantly to investigate crosscheck new posts

  5. Usually I do not read article on blogs however I would like to say that this writeup very compelled me to take a look at and do so Your writing taste has been amazed me Thanks quite nice post

  6. This is really interesting, You’re a very skilled blogger. I’ve joined your feed and look forward to seeking more of your magnificent post. Also, I’ve shared your site in my social networks!

  7. Thanks I have just been looking for information about this subject for a long time and yours is the best Ive discovered till now However what in regards to the bottom line Are you certain in regards to the supply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *