Plagiasi Mengintimidasi Penulis yang Tidak Percaya Diri

Plagiasi ibarat mimpi buruk yang menjadi kenyataan dalam kehidupan seorang penulis.

Beberapa waktu lalu saya berdiskusi tentang teman mengenai plagiasi. Yah, ia tersandung perkara demikian karena tulisan di blognya. Awalnya saya menolak, tetapi setelah saling bercerita akhirnya ada sesuatu yang seakan lepas. Semacam beban yang selama ini menggelayuti hati dan pikiran.

Pun setelah kami tebuka satu sama lain, ada suatu kesamaan. Mami pernah melakukan kesalahan. Maybe ya, plagiasi ini kejadiannya lebih banyak, hanya saja belum terungkap. Beruntunglah bagi kita yang mau terbuka dan berusaha untuk berubah.

“Bagaimana pendapat Mbak, tentang plagiasi?”

Wah, bagaimana ya. Kalau anak dulu mengatakan nano-nano, manis, asam, asin (ndak) keren rasanya. Beneran lo, saya tidak bohong. Bagaimana saya tahu? Karena saya pernah melakukannya, yah sebenarnya secara tidak langsung banyak dari penulis yang ada pun melakukannya. Manisnya sekejap, sisanya begitulah.

Kok bisa? Ya bisalah. Plagiasi itu juga memerlukan proses, ibaratnya kita mau ke Jogjakarta dari Jakarta. Ada beberapa pilihan jalan, bisa naik kereta, bus, mobil, ataukah numpang.

  • Orang lurus mengambil jalan sesuai atuan, tak peduli macet, adanya keterlambatan, ataukah pemeriksaan seperti masa covid ini. Ia tetap melakukannya sesuai aturan.
  • Orang bingung, memilih jalan yang belum tentu. Biasanya dipengaruhi faktor di jalan ataukah kondisinya sendiri.

Semisal saya pilih naik mobil. Bisa saja di awal saya lewatjalan tol, tidak tahan dengan macet atau karena kecelakaan jadi pilih jalan pintas. Ketika ada pemeriksaan, saya melakukan penyuapan dan penipuan.

  • Orang sesat “jahat” dari awal memang telah merencanakan untuk mengambil jalan pintas. Tak peduli anggapan orang lain, ia harus sampai di Jogjakarta.

Sudah paham?                           

Plagiasi dalam segala bentuk memang suatu tindakan kotor dan tercela. Tidak hanya merugikan penulis, tetapi juga penerjemah, editor, penebit. Pun dengan berbagai pihak yang terkait dengannya. Jadi, tak bisa dipungkiri kalau hal ini terjadi, hujatan selalu datang.

“Kalau karya Mbak diplagiasi?”

Kalau saat ini  pasti merasa sakit hati! Memang dulunya bagaimana? Alhamdulillah belum ada yang melakukan. Mungkin tulisan saya belum bagus, rugi kalau melakukannya. Semoga sekarang ini tidak terjadi.

Perjuangan untuk menulis itu berat lo, harus berkurban kuota, waktu tidur, kebersamaan dengan suami dan anak, dan juga menghemat uang. Belum lagi kalau ada pelatihan atau seminar dan juga lomba. Cuan penting banget, harus motong uang saku malahan. Hm bisa mengencangkan perut ni, eh salah menggembungkan perut. La setiap kali stres, nafsu makan juga meningkat!

“Mbak, pernah melakukan plagiasi?”

Itulah pertanyaan yang terlontar di akhir tahun 2020, tepatnya ketika saya mengikuti salah satu event kepenulisan. Saat itu, saya bingung harus menjawab apa. Hello eperibodi, why me? Bagaimanapun, saya merasa sudah berupaya untuk menulis sendiri, sayangnya semua termentahkan ketika hasil tulisan saya tak jauh dari yang sumber yang saya jadikan acuan. Kalau diingat saya juga malu.

Dulu, setiap kali mengikuti pelatihan kepenulisan, proses ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) adalah yang termudah. Sayangnya, pemahaman yang dangkal akan semua itu membuat latihan saya tersalurkan di tempat yang tidak tepat. Dari sanalah kesalahan saya berawal. Pemahaman akan ATM ini tenyata tidak sejalan dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Proses ATM, menuntut kita untuk membaca, mengolah, dan juga menulis sesuai dari apa yang kita tangkap. Selain itu, memasukkan ide pemikiran kita juga perlu cara yang tepat. Kalau sudah terbiasa menulis, gaya kepenulisan kita akan terlihat. Bukannya menulis dengan tambal sulam. Ingat ya! BUKAN TAMBAL SULAM sepeti yang dulu terjadi.

Ulala ! Saya juga baru tahu ada aplikasi untuk mengecek plagiasi lo? Kudet sekali ya! Kalau kalian?

Ternyata, internet memudahkan kita untuk mengecek plagiasi.

“Apa yang terjadi setelahnya?”

Mental saya down, ada ketakutan untuk menulis lagi. Rasanya pikian selalu buntu untuk bisa menulis. Jika sebelumnya mampu menulis beberapa lembar, dalam beberapa pragraf saja sudah tak jalan lagi. Saya pun sempat rehat sejenak.

Tanggapan netizen bagaimana? Saya takut bermedia sosial. Namun, sekali dua kali tetap membukanya untuk melihat pekembangan yang ada. Kalau tanggapan negatif tentu saja ada, walau tidak secara langsung. Kebanyakan dari mereka lebih banyak yang menyatakan ketidakpecayaan. Pun dengan saya. Namun, semuanya telah terjadi.

Pertemanan pun menjadi lebih canggung. Hanya segelintir orang yang menaruh kepercayaan penuh dan tetap memberikan dukungan. Terimakasih buat mereka.

“Kiat untuk bangkit bagaimana, Mbak?”

Inilah salah satu alasan kenapa kita harus menulis dengan bahagia. Ya, bahagia. Terlihat sederhana tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Salah seorang senior mengatakan, menjadi penulis itu mudah, tetapi menjadi penulis bahagia itu susah. Hal ini berhubungan dengan proses dan juga mental.

Saya mulai menata diri dan refleksi, kalau dulu kemaruk, apa-apa dipelajari. Kalau sekarangmah lebih fokus kepada satu tulisan,nonfiksi. Pun untuk kegiatan, sokoomah menjadi penyelamat. Segala kesenangan dan poin plus menjadi bahan bakar untuk terus menulis.

Saya pun lebih menghargai waktu. Jika sebelumnya waktu dihabiskan di depan laptop atau ponsel, sekarang bisa santai dengan keluarga. Seiring berjalannya waktu, kegiatan, pemikiran, dan dukungan positif mampu memupuk keperayaan diri untuk menulis lagi.

 “Bagaimana bisa melewati masa terburuk?”

Dalam dunia kepenulisan, jatuh bangun itu sudah biasa. Yang bebeda adalah cara kita menyikapinya.  Jatuh dalam hal ini dapat berasal dari bebagai aspek, entah karena kesalahan sendiri ataukah karena siklus pertemanan kita yang tak mendukung.

Pun salah satunya dengan melakukan plagiasi. Sebagai suatu gambaran, dulu saya melakukannya secara biasa, tak menganggap itu semua sebagai suatu larangan. Asalkan ada editan sana-sini, itu namanya bukan plagiat. Namun, sayang sekali ternyata apa yang saya lakukan justru semakin melemahkan dan penumpulkan otak. Jadi, waktu kesibukan di duta menguras tenaga, jalan pintas it ubegitu menggoda.

Memang apa yang saya lakukan salah, tetapi untuk bangkit dari keterburukan tak ada oang lain yang mampu mengatasinya. Kecuali, kalau saya memang ingin perubahan itu terjadi.

Selama jeda waktu yang cukup lama, saya memerlukan waktu untuk pulih seutuhnya dengan citra penulis baru.

Bagi mereka yang melakukan kesalahan seperti yang saya lakukan, kita harus berbenah kalau ingin bertahan. Apakah kalian melakukannya karena popularitas, butuh pengakuan, ataukah karena uang. Pilihan ada di tangan. Yang perlu diingat adalah dunia literasi itu luas, kita perlu batasan agar tidak keluar dari ranah yang ada.

Bantul, 23 Juni 2021

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *