Saya Ibu Profesional, Saya Ibu Bahagia

#BahagiaBertumbuhBersama

#Foundation11

#IbuProfesional

#SemestaKaryaUntukIndonesia

Segala sesuatunya adalah takdir dan jodoh!

Apiida Sokoomah

Tahun 2016 kali pertama saya mengenal Bu Peni. Bukan secara personal tetapi tahu. O, inilah orangnya. Waktu itu kalau tidak salah dalam acara FIM di Jakarta. Sayangnya, ada keraguan dan ada halangan untuk mengikuti. Jadi, ya terlewat begitu saja.

Jodoh belum berpihak di tahun setelahnya. Namun, ada keyakinan kalau saya akan menjadi bagian dari IP.

Sendiri itu Menyakitkan

Perjuangan itu berat, apalagi kalau sendiri. Bukan hanya bicara mengenai hubungan, dalam menjalankan sesuatu pun demikian. Ada daya tarik dan ujian  yang dapat membuat kita lengah.  

Sokoomah berdiri tahun 2019 akhir. Di awal-awal berjuang, semangat. Lambat laun, merasa lelah ataupun capek. Kadang tumbuh pikiran yang mempertanyakan keberhasilan yang kita dapat. Pertanyaan ini bukan hanya dari diri sendiri, tetapi dari suami juga!

Ada keraguan. Tahun 2020, bingung harus memilih, berkembang ataukah sebaliknya! Tahun 2021 menjadi titik balik yang mempertemukan saya dengan pejuang tangguh lainnya. Ah, ternyata saya tidak sendirian. Sempitnya pemikiran adalah proses untuk lebih mengembangkan penerimaan pada pendapat orang lain.

Ikut Komunitas

Komunitas bukan hal baru bagi saya. Ada beragam komunitas yang saya ikuti. Dari komunitas buku, guru, hingga parenting pun saya coba. Sayangnya, tidak semuanya memberikan efek positif.

Bukan berarti komunitas itu jelek! Semuanya murni dari dalam diri saya. Semasa masih semangat, saya mendaftar ke banyak komunitas tanpa mengukur kemampuan diri terlebih dulu.

Sayangnya, semua itu tidak disesuaikan dengan kemampuan. Termasuk uang ataukah waktu kebersaman dengan keluarga. Belum lagi kalau duta harian menyela, ya Allah rasanya pusing!

Niatan mencari ilmu justru efeknya menggerogoti kewarasan saya. Pun dengan hati nurani. Segala cara akhirnya saya tempuh. Asalkan tugas selesai dan mencapai target.

Ketika Allah Menegur

Plagiasi menjadi peringatan keras buat saya. Rasa malu sekaligus penyesalan membuat saya berpikir kembali, kenapa saya bisa melakukannya?

Ya, saat itu suasana rumah tidak kondusif. Hubungan saya dengan suami sempat renggang. Tugas menumpuk dengan tenggat waktu hampir bersamaan. Rasanya sudah tidak ada pilihan. Saya pun melakukan sesuatu yang tidak terpuji.

Beruntung saat itu suami dan juga teman memberikan dukungan positif. Walau terkesan tak ambil peduli, saya sempat stres. Namun, saya tak ingin menyerah. Ketika mengingat tanggung jawab yang dulu saya ikrarkan dengan lisan. Akhirnya, saya mengambil langkah dengan membuat prioritas.

  1. Sokoomah

Sokoomah sudah mulai dikenal masyarakat. Kalau saya hanya berfokus pada diri sendiri, semua juga tak akan selesai. Ketika sudah memulai, kita juga harus sadar untuk merawatnya.

Saat itu, Sokoomah sempat terbengkalai.  Saya berusaha untuk memperbaiki niat dan mengadakan kegiatan rutin. Setidaknya seminggu sekali ada kuliah online tentang pendidikan seksualitas.

2. Menulis dengan Bahagia

Saya harus merasa bahagia dulu sebelum menularkan apa yang telah saya pelajari. Atau setidaknya, saya melakukan sesuatu bersamaan pula dengan usaha untuk mencari kebahagiaan.

Tulisan menjadi jalan untuk mengekspresikan diri. Jika sebelumnya saya menulis hanya untuk memenuhi target, kini saya menyelesaikan tulisan agar dapat menyalurkan bakat dan ilmu secara bersamaan. Efeknya juga dalam  jangka panjang pula.

Ibu Profesional

Komunitas unggul tanpa sejalan dengan visi misi kita, tak memberi manfaat yang berarti!

Terkesan kejam, tetapi inilah yang saya rasakan. Dari berbagai komunitas yang saya ikuti hanya sekelumit ilmu yang bisa saya serap dan terapkan.

Mengapa? Setelah saya kaji, karena jiwa dan diri saya sendiri ada pikiran “Tak butuh.” Inilah yang membuat saya sulit menyerap.

Sedangkan Ibu Profesional (IP)? Ada aspek yang menarik perhatian. Salah satunya selalu berkembang dan dinamis dalam lingkup wilayah yang dapat saya jangkau. Ketika saya dengan suka rela menawarkan diri, di saat itulah, saya merasa menjadi bagian darinya.

Perjuangan saya untuk bisa masuk Foundation 11, lama dan panjang. Saya selalu kelewatan info tentang IP. Pernah juga karena keterbatasan biaya dalam rentang waktu pendaftaran, saya kembali menelan kekecewaan. Padahal saat itu sudah daftar.

Jadilah doa terucap. Kalau memang diri ini sudah siap, insyaAllah saya bisa menjadi bagian dari IP. Saya akan memfokuskan diri di lingkup ibu profesional ini. Alhamdulillah, pendaftaran di tahun 2021 dipermudah.

Setelah tergabung dalam Foundation 1 DIY, ada rasa bangga sekaligus gregetan. Bangga di lingkup pejuang untuk keluarganya. Teman sefrekuensi pun semakin banyak. Nyatanya dalam lingkup wilayah antar kabupaten teman seperjuangan itu ada.

Tim Foundation DIY 1 (Teman seperjuangan sekitar 28 hari)

Gregetan kalau penasaran dengan kegiatan IP selanjutnya. Alhamdulillah, itu tidak bertahan lama. Saya tak bisa berfokus pada sesuatu yang memang sudah diurus oleh manajemen IP.

Saya harus percaya dan berubah. Percaya pada apa yang telah direncanakan dan merubah mindset yang semula sebagai perempuan yang banyak kelemahan menjadi pembelajar. Proses penerimaan ini membantu saya menyerap asupan ilmu dan menularkan semangatnya ke orang lain.

Saya pasti bisa melewati setiap prosesnya, saya perempuan tangguh.

Saya bangga dengan apa yang saya miliki.

Saya bisa memberikan manfaat walau berada di rumah.

Saya orang luar biasa yang patut untuk bahagia.

Diawali dengan mengajukan diri menjadi ketua kelompok dan aktif selama materi. Ada sensasi sendiri. Ilmu itu lebih merasuk ke dalam pikiran dan hati. Apalagi saat saya menuliskannya kembali. Otak dan hati saya trenyuh seakan saling berbicara.

Pun ketika saya mengenal IP lebih dalam, bagian dari keluarganya terlihat sumringah. Saung demi saung terlewati. Semuanya tetap bahagia walau dengan segudang aktivitas. Inilah yang saya cari.

Pengumpulan stamp di setiap saung (dok. pribadi)

Harapan ke Depannya

Perjalanan baru saja dimulai. Petualangan ilmu dalam permainan IP membuat saya tertantang. Saya pun memilih ikut institusi dan kampung komunitas. Kemaruk ya!

Sumber: IP Materi Foundation 11 tahun 2021

Selagi masih bisa fokus, saya memang ingin mengambil ilmu sebanyak-banyaknya dari institusi IP. Inilah yang saya butuhkan untuk memperkuat saya sebagai perempuan, istri ataupun ibu.

Sumber: IP Materi Foundation 11 tahun 2021

Selain meningkatkan pengetahuan, saya tetap menjaga konsistensi hobi. Menulis salah satu jalan yang membuat saya tetap waras. Di sanalah saya ingin menggali lagi dan memfokuskan diri agar tulisan juga dapat berbicara dan menyebarkan ilmu.

Layaknya seseorang yang mencari tujuan hidup, saya ingin bahagia. Bersama IP saya ingin berproses. Berbekal dukungan suami, saya ingin melangkah tanpa meninggalkan kewajiban saya di rumah.

 “Menjadi ibu itu suatu kebahagiaan.”

Perkataan Bu Peni membuat pikiran saya berkembang. Ibu jalan saya menuju surga. Bagaimana saya bisa menyepelekannya? Mengapa saya tidak mengoptimalkan jalan itu? Mengapa saya terbebani dan tidak bersyukur?

Pertanyaan itu memicu pertanyaan lain dalam diri saya. Apa yang bisa saya lakukan untuk bahagia?

Tahu Diri

Berusaha mengenali diri sendiri membuat saya lebih hidup. Saya mulai bisa memilih antara kebutuhan dengan keinginan. Pun saya menjadi lebih menghargai diri sendiri. Prinsip inilah yang berusaha saya bangun tatkala memasuki IP.

Saya tidak terbiasa berada di depan kamera, tetapi saya masih bisa berperan di balik layar. Ip memberi kesempatan saya untuk tetap eksis tanpa narsis. Semoga ini memang sebuah awalan baik untuk bertransformasi menjadi ibu yang bahagia.

Salam keluarga D.

Related Posts

One thought on “Saya Ibu Profesional, Saya Ibu Bahagia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *