Mencari Jalan Berbagi
Kreeekkk…., pintu pagar terbuka perlahan. Akupun melangkah gontai, entah hari keberapa hal ini terjadi padaku. Aku sudah melupakannya, namun semuanya terulang lagi. AKu gagal dalam mencari lowongan peekerjaan, mereka menolak karena kurangnya pengalaman. Memang selama ini aku seringkali hanya fokus kuliah dan melewatkan kegiatan organisasi. Kini ada rasa sesal yang sempat kurasakan.
“Ayana…kemarilah sebentar!
Bu helvi memanggil sebelum kaki ini beranjak ke kamar. Ia adalah pemilik kos yang kutempati. Dengan mengenakan daster dan sandal jempit perempuan tambun itu mendekat.
“Iya bu.”, kupaksakan diri ini tersenyum.
“Ayana apakah sudah mendapat pekerjaan?”, akupun menggeleng.
Ini sudah tiga bulan kamu belum membayar kos, ibu tahu kondisimu sulit tapi pikirkan juga ibu. Kalau seperti ini terus lebih baik kamu pindah.”
“Iya, maaf bu. Akhir bulan ini akan Ayana usahakan.
“Benar ya ibu tunggu!”, kemudian akupun berpamitan. Perlahan kumasuki ruangan yang selama ini menjadi istana kecilku. Kurebahkan diri ini ke kasur, kupejamkan mata sambil mengingat apa yang dikatakan oleh dosenku tadi.
Sebagai manusia itu kita harus bisa berbuat baik setidaknya bermanfaat bagi orang-orang disekitar. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Ini juga merupakan salah satu pembuka pintu rizki. Berilah dengan sepenuh hati apa yang kau punya.
Bagaimana caranya bu?” Pertanyaan itu masih berputar di kepala.
Pertanyaannya sekarang adalah apa yang aku punya, sudah enam bulan menganggur setelah wisuda dari perguruan tinggi. Melamar pekerjaan memang tidak semudah mambalikkan tangan. Tidak ada pemasukan sama sekali hingga kini keuanganpun menipis. Bensin motor habis, sewa kos nunggak tiga bulan, persediaan makanan dan air tidak ada.
Apa yang harus kulakukan?
Kepala terasa mau pecah, sakit sekali, perlahan air mata ini tak bisa dibendung lagi. Rasa percaya diri selepas lulus dalam waktu cukup singkat perlahan sirna. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku sudah benar-benar tidak tahan.
Apa yang bisa kuberikan pada orang lain sementara aku juga tidak memiliki sesuatu?
—…—
Terdengar suara tawa dari kamar atas, memang kos ini terdiri dua lantai. Lantai satu terdapat 6 kamar dan lantai dua sebelas kamar. Rasanya diri ini ingin bergabung dalam tawa itu. Namun. Badan ini terasa kaku, hal ini berakibat pada ketidaktahuanku akan penghuni kos. Nama, alamat bahkan pekerjaanpun belum pernah kenalan. Padahal sudah tiga bulan kami tinggal di atap yang sama. Keberanian untuk bergabung hilang, selain karena minder juga karena pemalu memang sifatku.
Langkah ini mengarah tidak tentu, hanya berjalan yang bisa kulakukan. Melewati pintu kamar kos satu ke kamar lain menuju atap. Lengang di bawah bintang malam setidaknya mampu menjadi pelipur lara. Seakan angin berbisik, sayup terdengar suara desahan dan keluhan dari mereka yang bersembunyi dalam kamar. Aku punya masalah mereka juga punya. Aku dalam masa kebimbangan, mereka juga menghadapi hal yang sama entah saat ini, esok ataupun di masa mendatang.
—…—
Kuberanikan diri berkenalan dengan teman-teman satu lantai. Mereka mengobrol di sore hari aku ikut ambil bagian. Tidak terlalu buruk. Berbicara dan mendengarkan kisah mereka seakan mampu mengobati hatiku yang kesepian. Waktupun berlalu, mereka menyemangati dan member bantuan informasi tentang lowongan yang kuharapkan. Kalau kita tidak membuka diri terlebih dahulu orang lain akan kesulitan untuk memasuki dunia kita. Mereka tidak bisa membaca pikiran begitu juga dengan kita. karena itulah komunikasi memang penting.
Kubagi kertas HVS menjadi beberapa bagian, kutuliskan nama kemudian kata motivasi. Saat subuh kertas itu kuselipkan di sela-sela pintu. Entah darimana ide ini yang pasti aku hanya ingin berbicara dengan mereka walau hanya sedetik. Ketika tak terucap tulisanpun insyaAllah dapat mewakili. Hal itu berlangsung selama beberapa hari.
DI hari minggu pagi, kondisi kos yang semula sepi berubah menjadi lebih hidup. Mereka berada di depan kamar bukan melakukan aktivitas tapi membicarakan kertas yang ada di tanagn mereka.
HeiKau menerimanya tidak?
Iya, aku juga.”
Benar orangnya lucu, katanya Rina yang cantik semangat pagi. Selamat menjadi wanita aktif. Selalu jaga kesehatan!”
“Kalau aku, Intan yang ceria memang selalu bisa menghangatkan udara pagi yang membeku.”
Percakapan itu terus berlanjut, bahkan kini tidak hanya satu atau dua orang tapi sebagian dari mereka mengobrol sejenak. Aku tersenyum, ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Selama ini kami terbiasa menjalani kehidupan sendiri-sendiri. Mendengar percakapan mereka membuatku bahagia walau aku masih belum sanggup berhadapan dengan mereka setidaknya mereka mengakui keberadaanku.
—…—
 
                Apakah setelah itu aku langsung mendapat pekerjaan? tidak juga. Aku masih setia hinggap di tempat satu ke tempat lain. Mencari pekerjaan yang memang sesuai dengan apa yang kuinginkan, menjadi penulis. Walau masih perlu belajar setidaknya tulisanku ternyata masih ada yang menghargai dan memaknainya sebagai sesuatu yang berharga. Sampai saat ini setelah 5 tahun berlalu aku belum mencapai apa yang kuharapkan. Tapi aku tidak menyesal, hatiku lebih tenang dan menerima akan keadaanku. Pandanganku tentang hiduppun ,mulai berubah. Aku telah mengambil jalan ini dan akan menyelesaikannya menjadi salah satu buku di perpustakannmu.
Malang, Oktober 2014
Salam saying keluarga D

Related Posts

One thought on “Semangat Menulis

  1. I may need your help. I tried many ways but couldn’t solve it, but after reading your article, I think you have a way to help me. I’m looking forward for your reply. Thanks.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *