Kegagalan Mengolah konflik

Konflik dapat menjadi rangsangan positif atau pun negatif bagi yang mengalaminya. Nah, mengapa bisa timbul konflik dengan mertua? Bahkan dalam satu kesempatan bisa meledak jika kita tidak bisa menyelesaikannya?


o   Mertua mengira kita tidak menyukainya

Kita mungkin tanpa sengaja tidak memberi perhatian penuh, mengabaikan atau beliau salah tafsir pandangan atau sesuatu yang kita katakan atau lakukan. Tidak sulit bagi seseorang yang penghargaan dirinya rendah salah menafsirkan bahwa orang lain tidak menyukainya, karena dia tidak menyukai dirinya sendiri.


Misalkan: Suatu sore kita menunggu telepon penting dari saudara. Namun, saat menunggu mertua muncul. Tidak bisa terelakkan, obrolanpun terjadi. Walau perbincangan mengalir, perhatian kita tampak tidak di sana. Saat perbincangan mulai memanas dan mertua antusias telepon berbunyi. Tanpa menunggu waktu kita mengangkat dan berbicara di depan sang mertua. Dengan sikap kita yang seperti ini, penafsiran perilaku bisa berbeda dan terkesan tidak sopan.


o   Mertua merasa terancam oleh kita

Ego yang  rapuh selalu iri dan cemburu. Kita mungkin mengingatkan mertua akan apa yang dia inginkan tapi tidak terpenuhi. Untuk memenangkan perasaan tidak ‘kecukupan’ itu, mertua memberi label negatif dan akibatnya dia tidak menyukai kita karena sifat tersebut.


Misalkan:

Mertua menginginkan seorang menantu dokter, pada kenyataannya ia memang mendapatkan seorang menantu lulusan kedokteran. Tapi keputusan menantu dan mertua bertentangan dimana menantu memutuskan menjadi ibu rumah tangga dan lebih memilih bekerja di rumah sebagai penulis. Maka dari ketidaksesuaian ini, dimata mertua akan telihat keangkuhan dan ketidaksabaran menantu, bahkan ia akan melebih-lebihkannya dan selanjutnya tidak menyukai menantu.


o   Mertua melihat cerminan dirinya yang tidak ia sukai

            Hal ini baik sengaja atau pun tidak, dalam pikirannya muncul gagasan tidak menyukai kita karena mengingatkannya pada apa yang tidak disukainya dalam dirinya sendiri.


            Misal: Anda memiliki sifat keras kepala dan terang-terangan. Saat berbicara tentang makanan kesukaan suami dengan mertua sifat itu tidak di sadari muncul karena adanya unsur pembelaan diri hingga akhirnya muncul perdebatan kecil. Terlebih saat mertua menilai masakan kita masih kurang cocok dengan anaknya. Dalam hal ini semakin kita memberikan argumen maka kejengkelan yang mertua rasakan akan lebih mendalam.

Related Posts

One thought on “SERPIHAN KONFLIK (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *