Situs Porno Diblokir, Kewaspadaan Harus Diperketat!

Pemblokiran situs porno sedikit membawa angin segar bagi orang tua yang terjebak dalam jurang kekhawatiran. Pengaduan dan keluhan akan pekembangan anak karena situs porno membuat sebagian orang tua mengeluh, apalagi untuk mereka yang gaptek (gagap teknologi).

Siapa yang belum pernah lihat video porno? Maaf, saya tereliminasi. Tahun 2005 penggunaan internet tidak seperti sekarang. Alat komunikasi masih terbatas. Jenis ponsel dan laptop pun tak sebanyak sekarang. Zaman dulu, Nokia masih merajai.

Kemampuan saya dalam menggunakan internet pun terbatas, bisanya hanya lihat email dan browsing sesuai tugas sekolah. Komputer hanya dapat dilihat dan dinikmati ketika belajar di sekolah. Saat itu laptop masih menjadi barang mewah untuk kami. Ponsel pun hanya satu dalam keluarga, asalkan bisa untuk telepon dan berkirim pesan sudah cukup. Penggunaan pulsa masih dominan, bila mau memakai untuk game atau menjelajah ria di dunia virtual masih sulit.

Warnet dalam satu kampung masih ada 2-3 tempat dengan tarif 2000-2500/ jam. Terpaksa kalau ke sana biasanya hari minggu. Itu pun sudah ramai dan harus antri. Di warnet inilah, kali pertama saya melihat film porno. Itu pun secara tak sengaja.

File berisi film yang membuat saya menggigil ketakutan sekaligus malu itu biasanya terdapat di folder setelah download. Nama penyimpanannya pun beragam dan aneh. Saat itu diberi nama “pacarku”. Tidak hanya terdapat satu video, ada banyak video di sana. Saya pun berusaha untuk sambil lalu dan melupakannya.

Kejadian berulang, di hari-hari setelahnya. Walau telah berganti tempat, saya masih menemukan film serupa. Atinya apa? Akses seperti ini sudah banyak dilakukan oleh anak sejak dulu. Tidak terbatas umur, ada juga yang masih di bawah umur, bahkan anak SD. Semuanya didominasi oleh laki-laki.

Ketika saya kuliah, budaya ini masih terpelihara. Bahkan, ada beberapa warnet yang memang sengaja memasang folder ataukah situs dewasa untuk menarik perhatian pelanggan. Di saat itulah, saya mempunyai rezeki untuk membeli laptop.

Apakah anak perempuan mengakses film porno?

Jawaban ini cukup mudah, perempuan memiliki ketetarikan sama dengan laki-laki. Kebutuhan syahwat mereka juga memuncak di kala memasuki gerbang kedewasaan. Di saat sepeti inilah mereka juga melakukannya.

Beda dengan anak laki-laki yang lebih terbuka, anak perempuan melakukannya secara lebih tertutup. Berdasar pengakuan salah seorang teman, mereka lebih suka melihat film semi. Yah, walaupun alur cerita masih mengambang, setidaknya ada selingan selain seks.

Ada juga yang lebih memilih untuk membuka situs dewasa, sebut saja Anggi. Ia terbuka melakukan itu demi memuaskan pasangan atau pacarnya. Selama ini, perempuan dikenal sebagai pemalu. Namun, bagi seorang Anggi, belajar sesuatu yang berhubungan dengan seksual tidak ada yang salah. Semuanya masih kebutuhan manusia yang harus dipenuhi.

Masih ada banyak tanggapan akan hal ini, tetapi memang masih terjadi. Terkadang, dari mereka ada yang saling bertukar pengalaman hingga menonton film itu bersama-sama dengan teman kosan.

Situs porno diblokir

Tahun 2012, saya baru tahu kalau situs porno diblokir. Saat itu, sebagai seorang mahasiswa sekaligus masih single, saya tidak mau ambil pusing. Diblokir atau tidak, itu semua tidak berpengaruh pada saya. Namun, setelah sekian tahun berjalan. Pemblokiran ini membawa dampak positif yang seharusnya saya syukuri. Apalagi setelah anak saya telah tumbuh dan berteman dengan internet.

Bagi orang tua yang telah memiliki anak, kita harus tetap waspada. Apalagi di zaman seperti sekarang, ketika semuanya bersumber pada koneksi internet. Segala sesuatu bisa terjadi jika tidak dikendalikan. Termasuk salah satunya pelecehan atau kejahatan seksual yang ada merupakan akibat negatif dari penggunaan internet.

Peristiwa Nadia ( 5 tahun) yang diperkosa kedua kakaknya sebelum dibunuh itu pun menjadi bukti kelam yang tak terbantahkan. Padahal, mereka hidup jauh dari keramaian kota, di sebuah daerah di Sukabumi. Hal ini membuktikan suatu hal, kalau jarak dan lingkungan keluarga bukanlah benteng yang kuat dalam mengendalikan pengaruh pornografi ini.

Waspada, jika anak menjadi?

Sebagai orang tua, kita harus mencoba untuk berkomunikasi dengan anak. Sebelum meminta anak untuk terbuka, kita harus open mind  dan memberikan fasilitas itu. Salah satunya dengan menghindari 12 gaya populer yang ada, di antaranya:

  1. Memerintah.
  2. Menyalahkan
  3. Meremehkan
  4. Membandingkan
  5. Mencap
  6. Mengancam
  7. Menasehati
  8. Membohongi
  9. Menghibur
  10. Mengkritik
  11. Menyindir
  12. Menganalisa

Silakan baca juga mengenai 12 gaya populer yang sering terlupakan.

Setelahnya, kita harus lebih peka akan perubahan yang terjadi pada anak, di antaranya:

  1. Sebelum memerhatikan anak, pernahkah kita memerhatikan diri sendiri? Setidaknya pernahkah kita mengevaluasi diri akan apa yang telah terjadi. Pun salah satunya dengan penggunaan internet. Apakah situs yang kita buka, media sosial dan informasi apa yang telah kita lihat. Semua itu perlu diluruskan.
  2. Anak yang telah beranjak menjadi remaja memiliki ketertarikan yang kuat pada seksualitas. Di sini kita harus pengertian kalau mereka membutuhkan pendidikan seksualitas yang terbuka.
  3. Anak yang pendiam dan lebih suka berada di kamar. Setidaknya, bertanyalah apa yang terjadi tanpa menimbulkan prasangka untuk curiga.
  4. Lihat dan kenalilah teman anak. Terlebih jika anak menunjukkan perilaku yang tak sepantasnya dilakukan. Semisal bicara jorok, ataukah sering mengumpat.
  5. Kepemilikan ponsel bagi anak di bawah umur seharusnya ada pengawasan tersendiri. Setidaknya libatkan diri untuk melihat apa yang mereka tonton.

Bagaimana kalau anak kedapatan melihat konten porno?

  1. Kita harus mengendalikan diri untuk meminta informasi. Semuanya pasti kaget dan tidak menyangka atas apa yang terjadi. Beri waktu untuk menenangkan diri.
  2. Carilah waktu yang tepat dan santai untuk membicarakan semua itu.

“Apa yang kakak lihat?”

“Mengapa kakak melihat itu?”

“Siapa yang mengajari?”

“Setelahnya, apa yang kakak lakukan?

“Sekarang apa yang kakak mau?”

  • Kita membuat kesepakatan dalam menyingkapi video porno ini, salah satunya dalam penggunaan internet. Buat kesepakatan yang bisa disepakati kedua belah pihak.

Misalnya: Tidak ada gawai di meja makan.

Pintu kamar tidak boleh dikunci.

Kapan pun orang tua mau mengambil ponsel diizinkan oleh anak.

Orang tua tahu kata kunci email dan media sosial anak.

  • Terbiasa mengucapkan maaf dan terimakasih atas apa yang telah terjadi.
  • Berkomitmen untuk melakukan semua itu.

Demikian yang dapat saya tuliskan, semoga membantu. Salam bahagia dari keluarga D.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *