Tantangan Membangunkan Bocil di Pagi Hari

Trigger

Jam sudah berada di angka 7, bocil masih bertahan di tempat tidur sembari memeluk guling kesayangan.

“Nang, ayo bangun.” Ia tak bergeming. Suara napasnya teratur baik turun seakan tak peduli apa yang ada di sekelilingnya.

“Nang, ayo bangun, sudah waktunya berangkat sekolah.”

Sudah kesekian kali saya membangunkan bocil. Namun, semuanya masih nihil. Pun ketika saya mencium, menggoyang tubuh, kaki atau tangan, tak ada perubahan yang terjadi. Ia justru melingkarkan tangannya ke leher saya seakan mengajak tidur.

Kejadian seperti ini sudah terjadi semenjak bocil bayi. Di malam hari ia aktif sedangkan pagi hari ia lebih sering bangun kesiangan. Atau kalau yang paling parah merasa ngantuk setiap kali bermain.

Dulu, saya masih merasa ini hal biasa. Halah, masih anak-anak. Nanti kalau dilatih juga akan terbiasa. Sayangnya, mengubah pola tidur bocil sangat sulit. Banyak tantangan dan halangan yang sampai sekarang masih menjadi PR.

Hal ini pun sempat mengganggu kegiatan belajarnya di sekolah. Laporan guru di sekolah serta cerita dari teman sekelasnya, seperti meyakinkan kalau memang kebiasaan bocil ini kurang tepat.

Dari kebiasaan tidur yang kacau ini pula, saya perlu mengkonsultasikan bocil ke psikolog. Di dapatlah diagnosa kalau bocil mengalami SPD (Sensory Processing Disorder) dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Sebagai anak SPD, ia akan sangat sensitif terhadap lingkungan sekitar. Misal tak bisa tidur dalam kegelapan. Ia juga erasa terganggu kalau suasana hening (kecuali saat ia memang sudah tidur pulas), sehingga laptop atau  radio tetap harus ada suara. Pun ia tak bisa tidur jika suasana panas (sumuk). Yang mengakibatkan jendela ataukah pintu depan jarang ditutup. Beruntung ada garasi dan pintu ganda di halaman.

Kenapa tidak menggunakan kipas? Bocil alergi kipas, setiap kali menggunakan kipas berlebih ia akan masuk angin, mual dan muntah. Kalau AC? Kami yang tak sanggup. Mahal euy.

Nah, kalau dari segi ADHDnya, ia tak bisa tidur cepat karena mengalami kelebihan energi yang perlu dilampiaskan. Pelepasan energi yang terganggu dapat membuyarkan mood si kecil, daya konsentrasi serta bagian lainnya.

Walau bukan indikasi utama, kekacauan pola tidur ini dapat menjadi salah satu adanya indikasi kalau bocil memang spesial.

Menyampaikan Pesan dengan Jelas.

Daya tangkap anak ADHD seperti bocil memang memiliki keterbatasan. Ibarat dalam rangkaian gerbong kata, ia hanya akan menangkap kata awal dan akhir, sedangkan di tengah hanya sekadar selingan. Itu pun tak banyak.

Seringkali, sebelum tahu bocil ada ADHD saya lebih banyak memberikan ceramah. Tidak hanya pagi, siang ataupun malam semuanya berulang. Namun, hasilnya nihil. Label keras kepala dan bandel seringkali ingin saya ucapkan dari muliut. Namun, sekuat tenaga saya menahannya.

Kini, saat tahu bagaimana kondisi bocil. Saya lebih mudah menerima kondisinya, serta lebih mudah beradaptasi dalam membangun komunikasi dengannya. Pun termasuk ketika ingin menyampaikan pesan. Harus jelas.

Pun pemilihan kata dan bahasa harus yang familiar dengan telingannya. Semisal ia memakai bahasa Indonesia, ya setiap hari saya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Bagaimana dengan bahasa Jawa? Itu sebagai selingan. Plus saya terangkan kalau ia bertanya dan penasaran akan percakapan saya dengan tetangga misalnya.

“Nak, besok bangun pagi, sarapan, minum obat lalu berangkat sekolah jauh.”

“Nak, besok sekolah jauh, bangun pagi.”

Jelas dalam Memberikan Pujian dan Kritik

Bocil suka dan semangat ketika dipuji. Senyum dan perilakunya mencerminkan kebanggan dan kepercayaan diri. Namun, berbanding terbalik kalau ia dimarahi. Ia mudah marah dan down.

Karena itulah kalau marah saya tidak pernah lama. Saya selalu bilang kalau marah,

“Ibu marah sama Hakim, Hakim sudah jam 22.00 tidak tidur. Pagi sulit dibangunkan.”

Apakah bocil bisa langsung menerima? Tidak semudah itu Esmeralda. Ia akan tetap menunjukkan ketidaksukaannya karena dimarahi.

Dalam kondisi seperti ini, saya hanya akan diam sembari menemaninya. Kalau sudah dirasa waktu saling berdiam diri cukup, saya akan bertanya,

“Hakim tahu kenapa Ibu marah?”

Bila bocil sudah mengangguk atau diam, saya akan minta maaf dan memeluknya.

Mengganti Perintah dengan Pilihan

Bocil kalau diperintah seringkali hanya berdiam diri. Telinga lebih sering dijadikan asesoris. Ho ho, tidak demikian. Salah satu ciri anak ADHD yang paling mudah dikenali, ia akan merespon lambat pada panggilan. Apalagi perintah.

Untuk itulah, demi melatihnya saya juga memberikan pilihan yang sejatinya untuk membiasakan dia memiliki argumen dan juga alasan untuk bercerita.

“Nang, besok kita berangkat pagi. Mau sarapan apa? Mie goreng atau roti bakar? Kenapa?”

“Nang, besok mau lewat jalan mana? Yang ada rel keretanya atau jalan yang naik (jalan layang) itu?”

#tantanganzona2

#harike9                                                                                                                               #bundasayang8

#institutibuprofesional

#ibuprofesionaluntukindonesia

#bersinergijadiinspirasi

#ip4id2023

Related Posts

6 thoughts on “Tantangan Membangunkan Bocil di Pagi Hari

  1. I enjoyed it just as much as you will be able to accomplish here. You should be apprehensive about providing the following, but the sketch is lovely and the writing is stylish; yet, you should definitely return back as you will be doing this walk so frequently.

  2. Just wish to say your article is as surprising The clearness in your post is just cool and i could assume youre an expert on this subject Fine with your permission allow me to grab your RSS feed to keep updated with forthcoming post Thanks a million and please keep up the enjoyable work

  3. Here, I’ve read some really great content. It’s definitely worth bookmarking for future visits. I’m curious about the amount of work you put into creating such a top-notch educational website.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *